Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan

Sukhoi Ikuti Latihan Angkasa Yudha 2012

Jumat, 19 Oktober 2012

(Foto: Lanud Halim)

19 Oktober 2012, Jakarta: Pesawat tempur TNI Angkatan Udara jenis Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin, Makasar yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb Untung Suropati, tepat pukul 9.30 WIB, Jumat (19/10) mendarat dengan mulus di Landasan pacu Lanud Halim Perdanakusuma.

Kedatangan pesawat Tempur Sukhoi disambut langsung oleh Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, bersama Kepala Dinas Operasi Letkol Pnb Aditya Permana.

Menurut Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb Untung, setelah mendarat, satu Flight Sukhoi akan berada di Halim Perdanakusuma selama satu pekan dalam rangka mengikuti Latihan Puncak TNI Angkatan Udara Tahun 2012 dengan sandi Angkasa Yudha.

Sumber: Jurnas
Continue Reading | comments

Hawk 200 Skuadron 12 Tinggal 16 Unit

Rabu, 17 Oktober 2012

Sejumlah anggota Paskhas TNI AU melakukan proses evakuasi bangkai pesawat Hawk 200, di Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Riau, Rabu, (17/10). FOTO ANTARA/Fachrozi Amri/ed/ama/12)

18 Oktober 2012, Pekanbaru: Pesawat tempur Hawk TNI AU yang menjadikan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, sebagai apron tinggal 16 unit, setelah satu pesawat sejenis mengalami kecelakaan saat melakukan latihan penerbangan.

"Atas insiden ini, pesawat sejenis (Hawk) di Lanud Pekanbaru tinggal 16 unit. Kondisinya baik," kata Panglima Koordinator Operasi (Pangko Ops) I Marsekal Muda Bagus Puruhito yang meninjau langsung proses evakuasi pesawat Hawk, Rabu sore.

Selain tinggal 16 unit di Lanud Pekanbaru, demikian Bagus, pesawat sejenis juga ada 16 unit lagi yang ditempatkan di lokasi lainnya.

"Jadi secara keseluruhan, ada sekitar 32 unit pesawat Hawk," katanya.

Bagus mengakui sangat menyesalkan insiden jatuhnya satu unit pesawat Hawk 200 di Pekanbaru.

Pesawat naas tersebut dikendalikan oleh pilot bernama Letda Reza Prasetyo yang berhasil selamat dari insiden maut.

Insiden jatuhnya pesawat buatan Inggris itu terjadi di sekitaran pemukiman warga RT 03, RW 03, Kecamatan Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (16/10) sekitar pukul 09.47 WIB.

Sebagian besar puing bangkai pesawat Hawk 200 itu juga telah dievakuasi oleh tim dari Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja (Dislambangja).

Sumber: ANTARA News
Continue Reading | comments

Mendesak Modernisasi Alutsista

Sejumlah anggota Paskhas TNI AU melakukan proses evakuasi bangkai pesawat Hawk 200 diangkat ke mobil container, di Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Riau, Rabu, (17/10). Bangkai pesawat milik TNI AU yang jatuh Selasa (16/10) tersebut berhasil di evakusi dari lokasi kejadian dan akan di bawa ke Lanud Pekanbaru. (Foto: ANTARA/Fachrozi Amri/ed/ama/12)

17 Oktober 2012, Jakarta: Jatuhnya pesawat Hawk 200 milik TNI Angkatan Udara merupakan pukulan berat bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang beberapa tahun belakangan alutsistanya kerap mengalami kecelakaan.

"Pesawat Hawk memang sudah usia lanjut. Kejadian ini lagi-lagi memberi sinyal mendesaknya modernisasi alutsista TNI," kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Jakarta, Rabu (17/10).

Menurut Mahfudz, kini terdapat sekitar Rp 30 triliun dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk memodernisasi alutsista TNI. Pemerintah harus segera merealisasikan alokasi anggaran tersebut.

"Sejak reformasi 1998 nyaris tak ada pengadaan alutsista baru hingga akhir tahun 2010. Ketiga matra TNI sudah sangat memprihatinkan kondisi alutsistanya," ujarnya.

Seperti diketahui, pesawat Hawk 200 TNI Angkatan Udara jatuh di Pekanbaru, Selasa (16/10). Pilot pesawat itu, Letda Yori Prasetyo, selamat. Tidak ada korban dari pihak sipil.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengaku belum mengetahui penyebab kecelakaan tersebut. Ia mengingatkan kepada para penerbang TNI AU agar tetap bersikap profesional. "Risiko kecelakaan selalu ada, tapi perwira penerbang harus tetap latihan," katanya.

Pesawat TNI AU yang Jatuh Belum Berusia Tua

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin mengatakan, pesawat Hawk 200 milik TNI Angkatan Udara bukanlah pesawat berusia tua.

Pernyataan ini berbeda dengan pandangan koleganya di Komisi I, Mahfudz Siddiq, yang menyebut Hawk 200 sebagai pesawat berusia lanjut sehingga perlu dimodernisasi.

Hasanuddin menjelaskan, pesawat Hawk 200 masuk ke jajaran TNI AU pada akhir dekade 1990-an. TNI AU punya dua skuadron Hawk yang ditempatkan di Pekanbaru dan Pontianak. Sistem pemeliharaan di kedua pangkalan tersebut cukup bagus. Setiap tahun TNI AU belanja suku cadang dan melakukan pemeliharaan rutin.

Setiap pesawat militer punya risiko celaka. Namun, kata dia, " Kalau dilihat dari prosentasenya, kecelakaan pesawat TNI AU relatih lebih kecil ketimbang pesawat militer AS. Cuma, kita memang harus lebih memperhatikan perawatannya."

Berdasarkan fakta itu, politisi PDIP ini enggan menyimpulkan sejak dini penyebab kecelakaan pesawat Hawk 2000 di Pekanbaru, Selasa (16/10). Ia berharap semua pihak menunggu hasil investigasi yang kini ditangani pimpinan TNI AU.

"Bila hasil investigasinya sudah beres, Komisi I akan meminta penjelasan dari Kepala Staf TNI AU tentang kasus ini," katanya.

Sumber: Jurnal Parlemen
Continue Reading | comments

TNI AU Grounded Hawk 200

Selasa, 16 Oktober 2012

Hawk 200. (Foto: Merdeka)

16 Oktober 2012, Jakarta: Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, pesawat jenis Hawk 200 langsung grounded sementara waktu menyusul jatuhnya pesawat jenis tersebut pada Selasa (16/10/2012) di Riau.

"Jangan-jangan nanti kalau kita pakai ada sesuatu lagi, makanya kita harus tahu dulu," kata dia di Istana Negara Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Ia mengatakan, penyebab jatuhnya pesawat kemungkinan bukan human error, mungkin masalah mesin.

Menurut dia, dari pengalaman kalau ada eject, atau ada sesuatu yang terjadi dengan pesawat maka pilotnya akan meninggalkan pesawat.

"Ada emergency (keadaan darurat)," ujar Sufaat.

Pesawat tempur milik TNI AU jenis Hawk 200, yang jatuh di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (16/10/2012) sekitar pukul 09.30 WIB.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Hartind Asrin mengatakan, pilot pesawat telah melaporkan kondisi di dalam pesawat sesaat sebelum dia keluar dengan menggunakan kursi lontar.

"Dugaan sementara mesinnya mengalami gangguan sehingga dia melaporkan bahwa ada kerusakan dan minta izin untuk keluar dari pesawat," kata Hartind di Jakarta, Selasa siang.

Penyebab pasti mengenai kecelakaan pesawat tempur buatan 1980 itu akan diselidiki lebih lanjut secara internal oleh TNI AU.

"Penyebab kecelakaan atau pesawat jatuh itu ada tiga faktor kemungkinan, yaitu gangguan mesin, manusia, atau cuaca. Dugaan sementara karena gangguan mesin," katanya.

Selasa pagi, sekira pukul 09.30 WIB, sebuah pesawat Hawk 200 jatuh di Jalan Amal, Pasir Putih, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

Salah seorang saksi mata, yang merupakan warga sekitar, mengaku melihat sejumlah pesawat sedang melakukan latihan terbang yang salah satu di antaranya tampak mengeluarkan asap.

"Satu pesawat terlihat berasap dan tiba-tiba menukik, suaranya keras seperti petir," kata warga setempat.

Warga yang enggan disebut namanya itu mengatakan melihat sang pilot, Letda Reza Yori Prasetio, keluar dari pesawat dengan kursi pelontar dan jatuh ke sebuah kolam yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian.

Sang pilot selamat dan kemudian ditolong oleh warga setempat lalu dibawa ke rumah kepala desa. Sementara itu, ratusan anggota TNI AU langsung menuju ke lokasi kejadian melarang warga dan wartawan untuk mendekat. Beberapa warga dan wartawan yang coba mendekati lokasi untuk mengambil gambar bahkan sempat dipukul oknum tentara.

Hawk 200 yang Jatuh Dibeli dalam Keadaan Baru

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat menyatakan pesawat jenis Hawk 200 dibeli dalam keadaan baru. "Pesawatnya kami beli baru (waktu itu)," kata Imam di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 16 Oktober 2012.

Imam menjelaskan selama ini belum pernah ada pesawat jenis Hawk 200 yang jatuh. Salah satu pesawat jenis Hawk 200 jatuh sekitar pukul 11.45 tadi di Perumahan Pandau, Kecamatan Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Riau. Pesawat yang dipiloti oleh Letnan Dua Reza Yori Prasetyo ini jatuh sekitar tiga kilometer dari Landasan Udara TNI di Pekanbaru, Riau. Tidak ada korban jiwa karena penerbang sempat menyelamatkan diri dengan kursi pelontar.

Hawk 200, kata Imam, datang ke Indonesia sekitar 1994. Indonesia memiliki 32 unit pesawat yang dibagi di dua skuadron, yakni di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Pekanbaru, Riau.

Hawk 200 jenis pesawat tempur yang hanya memiliki satu kursi untuk pilot. Merupakan jenis pesawat tempur yang mampu terbang rendang serta diperuntukkan peperangan ringan di udara. Selain itu, Hawk 200 juga untuk penyerangan air to ground, dan anti rudal kapal laut.

Beberapa negara yang menggunakan seri pesawat tempur Hawk 200 adalah Royal Air Force Oman dengan seri Hawk 203, Hawk 205 untuk Angkatan Udara Kerajaan Saudi, Hawk 208 untuk Royal Air Force Malaysia, dan Hawk 209 untuk TNI AU.

Sumber: KOMPAS /TEMPO
Continue Reading | comments

Hawk 200 Skadron Udara 12 Black Panther Jatuh di Pekanbaru

Senin, 15 Oktober 2012

Pesawat Hawk 200 milik TNI AU jatuh sekitar 3 km dari Bandara Sultan Syarief Kasim II Pekanbaru, Selasa (16/12). (Foto: ANTARA FOTO/HO/Ozi/pd/12)

16 Oktober 2012, Pekanbaru: Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Kementerian Pertahanan Mayjen Hartind Asrin mengatakan, pesawat tempur Hawk 200 milik TNI Angkatan Udara yang jatuh di kawasan Pandau Permai, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (16/10/2012), karena mengalami kerusakan mesin. Pesawat tersebut sedang latihan terbang dan dalam kondisi layak mengudara.

"Kapuspen TNI AU sudah memberikan laporan, pesawat itu terbang dalam rangka latihan. Tapi, tiba-tiba mesinnya rusak dan jatuh," kata Asrin, di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Asrin mengatakan, laporan mengenai kerusakan mesin diperoleh dari keterangan pilot pesawat Letnan Dua Reza Yori Prasetyo. Sementara Reza selamat dari kecelakaan setelah keluar dari pesawat tempur Hawk 200 melalui kursi pelontar.

"Keterangan yang diperoleh dari Reza selanjutnya akan ditindaklanjuti tim investigasi di lapangan," tambahnya.

Asrin menjelaskan, terkait jatuhnya pesawat bisa disebabkan berbagai faktor, seperti kerusakan mesin, cuaca, dan kesalahan manusia. Tiga faktor itu akan dicocokkan lagi dengan keterangan pilot pesawat melalui investigasi internal TNI AU.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Hawk 200 milik Skadron Udara 12 Black Panther jatuh di permukiman Pandau Permai sekitar pukul 09.46, di Desa Pasir Putih, Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Menurut Nia (45), warga Bencah Limbat, ia sempat melihat pesawat meledak di atas rumahnya. "Pagi itu saya lagi menyapu halaman, dan saya terkejut mendengar suara ledakan sangat keras di udara. Ketika saya lihat ke atas rupanya pesawat tempur yang meledak," ucapnya.

Lalu, pesawat berkursi tunggal itu sempat memutar dan jatuh di halaman panti asuhan. "Sebelum jatuh, saya juga sempat melihat pilotnya terjun payung," kata Nia.

Sumber: KOMPAS
Continue Reading | comments

Lanud Rusmin Nuryadin Home Base Satu Skuadron F-16 Hibah

Sabtu, 13 Oktober 2012

F-16 A/B Fighting Falcon TNI AU dari Lanud Iswahjudi. TNI AU akan mengoperasikan 34 unit F-16 A/B/C/D mulai 2014, dibagi menjadi dua skuadron. (Foto: Dispenau)

13 Oktober 2012, Jakarta: Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I Marsekal Muda Bagus Puruhito mengatakan TNI AU akan membentuk skuadron khusus penampung pesawat F-16 hibah dari Amerika Serikat. Skuadron kelak akan ditempatkan di Pangkalan Udara Rusmin Nuryadin, Pekanbaru, Riau.

"Sementara ini akan segera dibangun dulu hanggarnya di sana (Pekan Baru). Dan pesawatnya (F-16) akan mulai datang (dari Amerika Serikat) tahun 2014 nanti sebanyak 24 unit secara bertahap," kata Bagus di Pangkalan Udara Husein Sasteranegara, Bandung, Sabtu 13 Oktober 2012.

Meski di Pekanbaru, Bagus melanjutkan, ke-24 pesawat hibah eks-Angkatan Udara Amerika Serikat itu tak akan disatukan dengan skuadron yang sudah ada di Lanud Rusmin yakni skuadron 12 yang diperkuat pesawat Hawk 200.

"Skuadron untuk F-16 nanti berdiri sendiri, terpisah dari skuadron 12. Nama skuadronnya nanti tentu tergantung Kepala Staf Angkatan Udara," katanya.

Bagus menjelaskan, penempatan F-16 di Pekanbaru tak lepas dari strategi modernisasi teknologi alutsista TNI-AU. Selain juga untuk perimbangan kekuatan di wilayah, supaya lebih berimbang. "Dengan belanja banyak alutsista baru kan (negeri) tetangga juga mikir (memperhitungkan kekuatan Indonesia)," kata dia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengatakan, hibah 24 pesawat F-16 eks Amerika Serikat tersebut akan menambah jumlah kekuatan F-16 Indonesia yang sudah memiliki 10 unit F-16. "Jadi nanti akan ada dua skuadron (F-16). Salah satu skuadron berisi 16 pesawat," katanya Maret lalu.

Sumber: TEMPO
Continue Reading | comments

Super Tucano Latihan ILS di Juanda

Jumat, 12 Oktober 2012

12 Oktober 2012, Surabaya: Foto sekuel berbagai manuver pesawat tempur terbaru milik TNI AU, Embraer EMB-314 Super Tucano buatan Brazil, melakukan latihan ILS (instrument landing system) di atas Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jumat (12/10). ILS adalah perangkat instrumen dalam pesawat yang berfungsi untuk membantu pendaratan pesawat di suatu bandara. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ss/pd/12)
Continue Reading | comments

12 Penerbang Mengikuti Pendidikan Konversi Super Tucano

Senin, 08 Oktober 2012

enhan, Purnomo Yusgiantoro berada di depan pesawat Super Tucano seusai menyerahkan pesawat itu di Skadron 21, Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jatimr, Senin (17/9). Pesawat Super Tucano tersebut dipesan TNI AU dari pabriknya di Brazil, dan pesawat selanjutnya akan dikirim secara bertahap untuk melengkapi kebutuhan skadron udara dengan jumlah 16 pesawat. FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/12)

9 Oktober 2012, Malang: Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang Marsekal Pertama (Marsma) TNI Gutomo kemarin melantik 12 penerbang peserta pendidikan konversi. Mereka disiapkan menjadi penerbang khusus pesawat tempur Super Tucano.

Menurut Gutomo, pesawat super tucano merupakan tanggung jawab bersama di Lanud Abdulrachman Saleh baik dari sisi perawatan maupun operasional. Jadi, dibutuhkan tenaga terampil, terlatih, dan bertanggung jawab untuk mengelolanya. “Empat unit pesawat yang sudah ada. Ini tentunya bisa dimaksimalkan untuk latihan bersama,”ujarnya.

Dia berharap, pendidikan konversi pendidikan ini mampu membangun sumber daya manusia yang andal di lingkungan Skadron Udara 21. Sebab para penerbang ini adalah kekuatan TNI AU di masa mendatang, demi menjaga keutuhan NKRI.

Tes Urine

Sementara itu, kemarin ratusan penerbang di Lanud AbdulrachmanSalehMalangmenjalani tes urine. Tes digelar mendadak seusai apel pagi. Menurut Kepala Rumah Sakit Lanud Abdulrachman Saleh Letkol Kes Muklis, tes ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya penyalahgunaan narkoba di korps penerbang.

Dia mengatakan, tes semacam ini sebenarnya sudah rutin digelar, khususnya bagi penerbang yang akan bertugas.“Narkoba sangat berbahaya. Sudah ditemukan penerbang sipil yang mengkonsumsinya. Karena itu kam harus melakukan antisipasi,”tegasnya.

Hasil tes ini akan diketahui dalam 6-8 hari ke depan.Saat ini seluruh urine penerbang yang dikumpulkan masih diuji di laboratorium rumah sakit Lanud Abdulrachman Saleh. Penerbang yang diketahui posisitif mengonsumsi narkoba akan disanksi sesuai peraturan.

Sumber: SINDO
Continue Reading | comments

Dua CN-295 Resmi Perkuat TNI AU

Kamis, 04 Oktober 2012

(Foto: DMC)

4 Oktober 2012, Jakarta: Dua unit pesawat CN-295 resmi memperkuat alat utama sistem senjata (Alutsista) di jajaran TNI Angkatan Udara, khususnya Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima kedua pesawat itu dari Kementerian Pertahanan kepada Mabes TNI, dan selanjutnya diterima Mabes TNI AU, di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis siang.

"Penyerahan dua pesawat hasil kerja sama Airbus Military Spanyol dengan PT Dirgantara Indonesia itu merupakan bagian dari sembilan unit yang dipesan Kemhan pada 14 Februari 2012 lalu," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai menyerahkan pesawat itu.

Tujuh pesawat sisanya bakal diserahterimakan paling lambat akhir 2014 mendatang.

Hadir dalam serah terima itu, pihak PT Dirgantara Indonesia, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat, serta sejumlah pejabat di jajaran Kemhan, Mabes TNI, dan Mabes TNI AU. Hadir pula beberapa perwakilan dari Anggota Komisi I DPR.

Menhan mengatakan, porsi pekerjaan yang dilaksanakan PT Dirgantara Indonesia dalam pembuatan pesawat ini meningkat secara signifikan dari pesawat pertama hingga pesawat ke sembilan.

"Proses produksi tujuh pesawat dilakukan di Airbus Military dan dua unit lainnya dibuat di PT Dirgantara Indonesia," kata Purnomo. Selain itu, komponen maupun vendor items yang dibuat di Airbus Military, akan dikirim ke PT Dirgantara Indonesia untuk diintegrasikan.

Purnomo mengatakan, pesawat CN-295 sangat efektif untuk melakukan operasi militer selain perang, seperti penanggulangan bencana alam.

Pesawat CN-295 adalah pesawat angkut taktis (medium airfilter) generasi terbaru yang sudah menggunakan full glass cockpit, digital avionic dan sepenuhnya kompatibel menggunakan night vision googles (NVG).

Pesawat ini akan menggantikan pesawat Fokker-27 yang sudah dilarang terbang oleh pemerintah pascakecelakaan di Halim beberapa bulan lalu. CN-295 merupakan pesawat pengembangan dari tipe CN-235 yang juga telah dioperasikan di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma.

CN-295 mampu membawa 71 personel atau total 9 ton cargo. Pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian 25 ribu kaki dengan kecepatan jelajah maksimal 260 knot atau 480 kilometer perjam. Pesawat ini juga dapat diterbangkan dan dikendalikan dengan aman dan sangat baik pada kecepatan rendah hingga 110 knot atau 203 kilometer perjam.

Dengan menggunakan dua mesin Turboprop Pratt dan Whitney Canada (PW 127G), pesawat ini mampu melaksanakan lepas landas dan melaksanakan pendaratan pada landasan pendek sekitar 670 meter atau setara 2.200 kaki dengan berat tertentu.

Kemampuan CN-295 dinilai sangat cocok dengan tugas dan misi yang diemban TNI Angkatan Udara, yakni mengangkut logistik, menerjunkan pasukan dan logistik, evakuasi medis udara, patroli udara terbatas, dan mampu melaksanakan penugasan militer maupun misi kemanusiaan.

Kehadiran pesawat ini dinilai sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kemampuan produksi industri pertahanan di Indonesia.

Sumber: ANTARA News
Continue Reading | comments

Diresmikan Lanud Medan Menjadi Lanud Soewondo

Jumat, 28 September 2012

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat (kanan) didampingi Komandan Pangkalan TNI AU Soewondo, Kolonel (PNB) SM Handoko (kiri) pada persemian Pangkalan TNI AU Soewondo, di Medan, Sumut, Jumat (28/9). Pangkalan TNI AU Soewondo sebelumnya bernama Pangkalan TNI AU Medan. (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi/ed/mes/12)

28 September 2012, Medan: Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat meresmikan penggatian nama Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Medan menjadi Lanud Soewondo, Jumat.

Dalam sambutan ketika meresmikan Lanud Soewondo, ia mengatakan pergantian nama Lanud ini merupakan bentuk penghargaan atau mengenang para pahlawan TNI Angkatan Udara yang turut berjuang menegakkan NKRI. Kapten Anumerta Soewondo adalah salah seorang pejuang yang ikut menegakkan NKRI, dengan menggagalkan gerakan para pemberontak PRRI di Tapanuli. Soewondo adalah perwira TNI AU yang dikenal benar-benar gigih dalam membela dan menegakkan NKRI, sehingga dia akhirnya gugur di medan pertempuran.

Bahkan, pada 18 Maret 1958, Soewondo dengan menggunakan pesawat tempur berhasil menghancurkan 60 tank lapis baja milik pemberontak PRRI.

“Atas jasa-jasa perwira TNI AU Soewondo dalam berjuang membela dan mempertahankan NKRI tersebut, maka pemerintah memberikan penghargaan terhadap beliau dan mengabadikan namanya. Saat ini nama Lanud Medan, telah resmi diganti menjadi Lanud Soewondo,” ujar Sufaat.

Kasau juga mengatakan, ada beberapa nama-nama pahlawan dari TNI AU, yang juga ditabalkan pada Lanud, yakni Lanud Leo Wattimena pengganti Lanud Morotai di Maluku dan Lanud Rusmin Nurjadin menggatikan Lanud Pekanbaru.

Penabalan nama Lanud Soewondo tersebut, juga ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat yang juga disaksikan oleh Ibu Suharyani merupakan adik kandung dari Kapten Anumerta Soewondo.

Dalam kesempatan itu, Ibu Suharyani mengatakan, ia merasa bangga atas penabalan nama Soewondo pada Lanud tersebut.

“Saya juga berterima kasih kepada pemerintah, atas perhatian yang cukup besar pada Kapten Anumerta Soewondo,” kata Suharyani.

Sementara itu, Komandan Lanud Soewondo, Kolonel Penerbang SM Handoko dalam laporannya mengatakan, dalam peresmian penggantian nama Lanud Soewondo ini juga sekaligus acara peresmian lapangan tenis dan perumahan dinas TNI AU.

Dia mengharapkan, dengan penggantian nama Lanud Soewondo ini, semangat kerja personel TNI AU semakin lebih baik.

Sumber: ANTARA Sumut
Continue Reading | comments

Hawk Latihan Menembak Maverick

Senin, 24 September 2012

Hawk Skadron Udara 12. (Foto: nicowijaya)

24 September 2012, Madiun: Fighter dari bumi khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak dan Black Phanter dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, tiba di Lanud Iswahjudi dan disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos., di Shelter Skadron Udara 14, Senin (24/9).

Kehadiran para Fighter dari bumi khatulistiwa dan bumi lancang kuning tersebut, tak lain untuk mengasah kemampuan naluri Fighter sebagai penggempur dan penghacur sasaran baik udara maupun darat yang telah ditentukan dengan menggunakan roket maupun bom.

Dengan menggunakan pesawat tempur jenis Hawk 100/200, baik dari Skadron Udara 1 maupun Skadron Udara 12, latihan dimaksudkan untuk menguji kualitas ketepatan menembak bukan menghancurkan sasaran. Sementara latihan direncanakan berlangsung selama 4 hari dengan lokasi latihan di Air Weapon Range (AWR), Pulung Ponorogo.

Black Phanter dari skadron Udara 12, yang tiba lebih dulu di pimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb M. Yani, menyusul berikutnya, Elang Khatulistiwa dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, dengan Komandan Skadron Letkol Pnb Radar Suharsono, yang kedatanganya di sambut langsung pula oleh Danlanud Iwj Marsma TNI M. Syaugi, S.Sos., dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi.

Sedikitnya 60 personel Skadron Udara 1 ikut terlibat dalam latihan ini dan dipimpin langsung Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Radar Suharsono. Adapun pesawat yang digunakan adalah TT 0225 diawaki Lettu Pnb Andres, TL 0112 diawaki Letkol Pnb Radar Suharsono dan Lettu Pnb Binggi Nobel, TT 0234 diawaki Kapten Pnb Yossi, TT 022 yang diawaki Kapten Pnb Syaifuddin, TT 0223 Lettu Pnb Ari Nugroho Widodo, TT 0221 diawaki Mayor Pnb Agung.

Sedangkan ground crew dan peralatan pendukung latihan diangkut oleh pesawat Hercules A-1314 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma yang dipiloti Letkol Pnb Arifin dan Copilot Mayor Pnb Beny.

Sumber: Dispenau
Continue Reading | comments

Pesawat Asing Dipaksa Mendarat di Lanud Palembang

Rabu, 19 September 2012

Hawk TNI AU. (Foto: Dispenau)

20 September 2012, Palembang: Lantaran melenceng dari jalur penerbangan seharusnya,sebuah pesawat asing kemarin dipaksa mendarat oleh TNI AU di Base Ops Lanud Palembang sekitar pukul 14.00 WIB.

Pesawat yang diketahui jenis Boeing 737 itu sebelumnya terpaksa di-intercept dua pesawat tempur jenis Hawk 100 dan Hawk 200 dari Skuadron Pekanbaru untuk segera mendarat di Lanud Palembang setelah terpantau radar Kohanunas melenceng dari jalur penerbangan seharusnya. Setelah melalui negosiasi yang alot, pesawat berbendera negeri antah berantah itu pun akhirnya berhasil digiring turun ke Lanud Palembang untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya.

Sebelum akhirnya berhasil menemukan kesepakatan, pesawat berbendera asing tersebut tak urung mendapat penjagaan ketat puluhan aparat yang telah bersiaga di sekitar lokasi pendaratan. Kedatangan pesawat asing juga dikawal kendaraan pasukan TNI AU, tim Crash Car PKPPK PTAP2 Palembang, hingga tim imigrasi. Sejumlah personel gabungan langsung mengamankan daerah sekitar pesawat mendarat.

“Pesawat tiba-tiba terpantau melenceng masuk wilayah teritorial kita.Makanya TNI AU pusat memerintahkan dua pesawat tempur memaksa turun ke Lanud Palembang. Kita belum tahu mereka ini mau apa,makanya dipaksa turun untuk dicek kelengkapannya,”ungkap Danlanud Palembang Letkol Pnb Adam Soeharto kemarin. Adam mengatakan,sekelumit cerita tadi merupakan skenario latihan Force Down yang telah dirancang untuk memantapkan kesiapan pasukan saat kondisi serupa terjadi di Lanud Palembang.

“Jadi kalau ini benar-benar terjadi, aparat kita langsung sigap. Kalau tidak mau diusir, mereka harus dipaksa mendarat dan diperiksa surat izin terbangnya,”katanya. Sementara itu, May Pnb B Sudewo Kepala Seksi Ops dan Latihan Pangkalan Udara (Lanud) Hasanudin Makassar yang berperan sebagai kapten pilot pesawat X mengatakan,latihan digelar untuk me-refresh pengamanan di pangkalan seluruh Indonesia, termasuk beberapa masalah real yang akan ditemui di lapangan yang membutuhkan penanganannya rumit.

“Intinya kejadian seperti itu bisa saja terjadi di pangkalan mana pun, makanya kita me-refresh agar aparat di pangkalan selalu siap,”ujarnya. Dia mengungkapkan, walaupun terkesan sederhana, proses seperti itu cukup rumit karena umumnya pilot pesawat berbendera asing tidak mau begitu saja dipaksa mendarat, meski terpantau radar telah melenceng dari wilayah penerbangannya.

Untuk itu, dibutuhkan tim negosiasi yang bagus dan solid untuk melakukan tindakan tepat bagi pesawat-pesawat yang melakukan hal serupa.“Jadi kalau tadi ceritanya ada crew saya yang sakit. Saya selaku pilot harus menjaga keamanannya. Makanya saya tidak mau langsung turun saat dipaksa mendarat,” ucapnya.

Sumber: SINDO
Continue Reading | comments

Embraer Tawarkan Alih Teknologi, Jika Borong Super Tucano 32 Unit

Selasa, 18 September 2012

Penyambutan Super Tucano tiba di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. (Foto: Lanud Abdulrahman Saleh)

18 September 2012, Malang: Pemerintah Brasil membuka kesempatan lebih luas untuk kerja sama pengadaan pesawat militer aneka jenis dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) pasca penjualan Super Tucano ke Indonesia.

Sayangnya, dalam pengadaan Super Tucano yang sudah berjalan, alih teknologi (ToT) yang didapat Indonesia minim. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disertai alih teknologi. Namun dalam pengadaan Super Tucano ini, alih teknologi yang didapat tidak sampai dalam tahap teknologi pembuatan. Menurut dia,minimal harus beli 32 unit agar Indonesia bisa mendapat ToT hingga proses produksi bersama.

”Kalau minimal 32 unit, beberapa pesawat bisa diproduksi di Indonesia. Tapi karena baru delapan, ToT untuk PT Dirgantara Indonesia (DI) baru bisa ground support,” terangnya seusai serah terima pesawat dari Pemerintah Brasil kepada Indonesia di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang,kemarin. Seperti diketahui, TNI AU membeli delapan pesawat Super Tucano dengan nilai USD141,99 juta. Pihak Embraer Brasil selaku produsen baru mengirimkan empat pesawat.

Direncanakan empat pesawat lagi akan dikirim pada 2013. KSAU menuturkan, memang diharapkan PT DI bisa turut serta dalam pembuatan pesawat yang cocok untuk counter insurgency (antigerilya) sehingga suatu saat Indonesia bisa memproduksi pesawat jenis ini. Namun, dengan jumlah pembelian yang sedikit tersebut, jika dipaksakan dilakukan produksi bersama justru membuat anggaran membengkak. ”Kita sudah lima tahun off, skuadron tidak terbang (pascagrounded OV-10 Bronco pada 2007). Jadi kita harus cepat (pengadaannya),”terangnya.

Adapun untuk persenjataan, lanjut KSAU,hanya sebagian yang tidak dibeli dari luar negeri seperti PDU, bom MK82,dan roket FFAR karena industri dalam negeri sudah bisa memproduksi. Selebihnya harus membeli dari luar negeri seperti peluru kaliber 12,7 mm dengan sistem tembak elektrik.” Super Tucano bisa mengangkut senjata hingga 1,5 ton,” sebut Imam. Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silvera Soares mengatakan,kerja sama pertahanan antara kedua negara tak hanya untuk jangka pendek dan menengah,melainkan jangka panjang.

”Kami juga siap memberikan alih teknologi dan siap memberikan masukan apa pun yang dibutuhkan Indonesia,”tegasnya. Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security Luiz Carlos Aguiar menambahkan,Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan. Itu pun jika Indonesia membeli minimal dua skuadron.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serah terima pesawat Super Tucano tersebut cukup monumental karena Indonesia mendapat pesawat beserta perjanjian kerja sama berkelanjutan. ”Januari 2013 datang lagi pesawat itu (4 unit),” ucapnya. Selanjutnya, pada akhir 2013 atau awal 2014, delapan unit yang dibeli pada tahap kedua dijadwalkan juga tiba.

Sumber: SINDO
Continue Reading | comments

Kekuatan Alutsista TNI AU Capai 40% pada 2014

Senin, 17 September 2012

Sejumlah prajurit TNI AU mengenakan pakaian tradisional menarik pesawat Super Tucano saat berlangsungnya serah terima pesawat itu di Skadron 21, Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jatim, Senin (17/9). Pesawat Super Tucano tersebut dipesan TNI AU dari pabriknya di Brazil, dan pesawat selanjutnya akan dikirim secara bertahap untuk melengkapi kebutuhan skadron udara dengan jumlah 16 pesawat. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/12)

17 September 2012, Malang: Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro meyakini kekuatan alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI Angkatan Udara (AU) hingga semester I 2014 mendatang dalam rangka kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) akan mencapai 40%.

"Hadirnya pesawat tempur F-16, pesawat angkut dan pesawat tempur lainnya akan mempercepat dan menambah prosentasi kekuatan pertahanan kita, khususnya TNI AU," katanya dalam sambutan di acara Penyerahan Empat Pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer Brasil kepada Kementerian Pertahanan, di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin..

Terlebih, lanjut Menhan, TNI AU telah menerima empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano. Diharapkan pada 2014 nanti 14 jenis alutsista akan menambah kekuatan TNI AU, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, pesawat intai dan pesawat tempur lainnya..

"Saat ini TNI AU telah menerima empat unit pesawat Super Tucano. Pada Januari 2013 akan datang kembali empat unit. Diharapkan pada akhir 2013 atau awal 2014 akan tiba delapan unit lagi, sehingga tercapai satu skadron atau 16 unit," katanya..

Pesawat tempur itu akan menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang tidak digunakan lagi sejak 2007. Pesawat ini akan ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang..

Menurut dia, hingga 2014 mendatang pada akhir masa kabinet ini, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI AU, TNI Angkatan Laut maupun TNI Angkatan Darat. "Sebanyak 45 alutsista bergerak ini termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia," ujarnya.

Sumber: Investor Daily
Continue Reading | comments

Pembelian Super Tucano Dalam Rangka Mewujudkan TNI AU "the First Class Air Force"

Menhan, Purnomo Yusgiantoro berada di depan pesawat Super Tucano seusai menyerahkan pesawat itu di Skadron 21, Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jatimr, Senin (17/9). Pesawat Super Tucano tersebut dipesan TNI AU dari pabriknya di Brazil, dan pesawat selanjutnya akan dikirim secara bertahap untuk melengkapi kebutuhan skadron udara dengan jumlah 16 pesawat. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/12)

17 September 2012, Malang: Pengadaan pesawat terbang Embraer EMB 314 Super Tucano merupakan bagian dari program pembangunan kekuatan pertahanan untuk mewujudkan kekuatan pokok pertahanan (minimum essensial force) dan dalam rangka membangun kekuatan TNI AU menuju the first class air force.

Untuk tujuan tersebut, pada rencana strategis 2010-2014, pemerintah telah merencanakan pengadaan 16 unit pesawat Super Tucano untuk tercapainya satu Skuadron Super Tucano yang utuh.

Demikian disampaikan oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro pada acara Serah Terima Pesawat Terbang Embraer EMB 314 Super Tucano dan Follow On Support di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin (17/9).

Menurut Menhan, pesawat terbang Super Tucano ini akan memperkuat jajaran Wing 2 Lanud Abdurachman Saleh Malang khususnya Skadron-21 Koopsau 2. Penempatan Skuadron-21 Super Tucano di Lanud Abdulrachman Saleh Malang didasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis yang cukup mendalam untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas operasi pertahanan udara nasional serta penegakan hukum wilayah udara NKRI.

Menhan berharap keberadaan pesawat terbang Super Tucano dapat menjadi kebanggaan tidak hanya jajaran TNI dan TNI AU tapi bangsa Indonesia secara keseluruhan guna mengemban tugas mulia dalam melindungi dan mengamankan kedaulatan udara NKRI.

Pada kesempatan itu, Menhan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah Brasil serta apresiasi atas kerja sama yang erat dan bersahabat dalam meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan. "Kepada jajaran TNI khususnya TNI AU, dengan hadirnya pesawat terbang Super Tucano ini saya harapkan dapat memanfaatkannya secara optimal termasuk dalam sistem pemeliharaan dan perawatannya," kata Menhan.

Menhan berharap dengan kehadirannya pesawat Super Tucano ini, TNI AU khususnya jajaran Lanud Abdurachman Saleh, Malang akan lebih semangat dan termotivasi dalam pengabdiannya kepada negara dan bangsa ini," katanya.

Sebelumnya diberitakan, empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) Brasil secara resmi memperkuat memperkuat kekuatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) di jajaran TNI Angkatan Udara. Peresmian ditandai dengan diserahterimakannya empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer kepada Kementerian Pertahanan RI, Senin (17/9) di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Serah terima dilakukan secara simbolis dari Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security, Luiz Carlos Aguiar kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Usai diterima oleh Kemhan RI, selanjutnya diserahterimakan kepada Mabes TNI diwakili oleh Asisten Logistik (Aslog) Panglima TNI, Mayjen TNI H. Hari Krisnowo dan kemudian diserahkan kepada Mabes TNI AU diwakili oleh Aslog KSAU, Marsekal Muda TNI JFP Sitompul.

Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes TNI AU. Hadir pula Dubes Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares.

Sumber: Jurnas
Continue Reading | comments

Super Tucano Resmi Perkuat TNI AU

Minggu, 16 September 2012

(Foto: DMC)

17 September 2012, Jakarta: Empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) Brasil secara resmi menjadi bagian dari alat utama sistem senjata di jajaran TNI Angkatan Udara.

Peresmian ditandai dengan diserahterimakannya empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer Brasil kepada Kementerian Pertahanan RI, Senin (17/9) di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. Serah terima dilakukan secara simbolis dari Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security, Luiz Carlos Aguiar kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Usai diterima oleh Kemhan RI, selanjutnya diserahterimakan kepada Mabes TNI diwakili oleh Asisten Logistik (Aslog) Panglima TNI, Mayjen TNI H Hari Krisnowo dan kemudian diserahkan kepada Mabes TNI AU diwakili oleh Aslog KSAU, Marsekal Muda TNI JFP Sitompul.

Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes TNI AU. Hadir pula Dubes Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares.

Super Tucano di shelter Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. (Foto: Tempo/Aris Novia Hidayat)

Serah terima empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 ini merupakan bagian dari kontrak pembelian 8 (delapan) unit pesawat sejenis antara Kemhan RI dengan Embraer pada tahun 2010 dengan nilai total US$141,99 juta.

Sedangkan empat unit pesawat Super Tucano lainnya direncanakan akan tiba di Indonesia pada bulan Maret 2013. Delapan pesawat tempur ini ditempatkan di Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur untuk menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang secara resmi tidak lagi dioperasikan oleh TNI AU sejak tahun 2009.

Pesawat Super Tucano merupakan pesawat tempur taktis yang berfungsi counter insurgency, sebagai pesawat remote air control (pesawat kontrol udara) dan juga dapat digunakan sebagai pesawat intai. Keunggulan pesawat jenis Super Tucano ini tidak hanya lebih murah dibandingkan dengan pesawat tempur jenis F-16, akan tetapi juga paling murah biaya operasinya.

Keunggulan lainnya, pesawat Super Tucano mampu membawa amunisi minimal 1.500 kilogram. Selain itu, pesawat Super Tucano juga digunakan oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat. Pesawat Super Tucano ini juga lebih unggul karena bisa beroperasi minimal tiga jam. Di Brasil, pesawat Super Tucano ini berhasil mengurangi illegal logging dan trafficking.

Sebelumnya, empat unit pesawat Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Minggu (2/9). Pesawat-pesawat itu tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama dua minggu. Keempat pesawat Super Tucano yang diawaki pilot dan teknisi Embraer itu melintasi wilayah udara seperti Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand, dan mendarat di Pangkalan Udara Soewondo di Medan, Sumatera Utara.

Kemudian dilanjutkan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan berakhir di Malang. Keempat pesawat Super Tucano tersebut telah diregistrasi dengan nomor ekor masing-masing TT 3101, TT 3102, TT 3103, dan TT 3104.

Tadi pagi, Senin (17/9) Menhan bersama rombongan take-off dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Lanud Abdulrachman Saleh dengan menggunakan pesawat Hercules.

Fasilitas Pendukung Super Tucano Diresmikan

Kehadiran pesawat Super Tucano di Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd saleh perlu didukung dengan fasilitas-fasilitas untuk mendukung operasional pesawat Super Tucano diantaranya ruang CBT (Computer Base Trining), ruang Simulator, ruang GSE (Ground Supply Equipment) dan fasilitas pendukung lainnya.

Pada kesempatan ini, semua fasilitas tersebut diresmikan oleh Pangkoopsau II, Marsekal Muda TNI Agus Supriatna, minggu, (16/9), di Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd Saleh. Dengan didampingi oleh pejabat dari Koopsau II, Komandan Lanud Iswahyudi Marsma TNI M. Syaugi dan Komandan Lanud Abd Saleh, Marsma TNI Gutomo, S.IP. beserta staf dan pejabat Insub.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Pangkoopsau II, Marsekal Muda TNI Agus Supriyatna dan pengguntingan pita oleh Ibu Agus Supriyatna disaksikan seluruh pejabat yang hadir di peresmian tersebut.

Sumber: Jurnas/Lanud Abdulrahman Saleh
Continue Reading | comments

Pesawat C-295 Dijadwalkan Tiba 21 September di Indonesia

Minggu, 09 September 2012

C-295 Spanish Air Force. (Photo: Airbus Military)

10 September 2012, Jakarta:Empat penerbang TNI Angkatan Udara dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, yaitu Letkol Pnb Elistar Silaen Komandan Skadron Udara 2 Lanud Halim, Mayor Pnb Destianto, Mayor Pnb Trinanda dan Kapten Pnb Reza Fahlifie saat ini berada di Airbus Military, Sevilla, Spanyol untuk menjalani Training dengan menggunakan pesawat C-295 Airbus Military selama kurang lebih tiga Bulan dari Bulan Juli sampai September 2012.

“Saat ini program training kami sudah melaksanakan latihan simulator sebanyak 48 jam, mulai dari tanggal 5 Sepember kami sudah flight training degan pesawat C-295 Airbus Military, dan rencana training sampai dengan tgl 14 September” ujar Komandan Skadron 2 Letkol Pnb Elistar Silaen yang disampaikannya melalui e-mail yang dikirimkan kepada Penerangan Lanud Halim baru-baru ini.

Lebih lanjut Komandan Skadron 2, mengatakan bahwa “latihan training masing-masing pilot dilaksanakan Enam jam terbang. Rencana ferry pesawat C-295 Airbus Military sementara tanggal 17 September dan tiba di Indonesia tanggal 21 September” ujarnya sambil menharapkan bantuan doa kepada seluruh anggota TNI Angkatan Udara, agar seluruh kegiatan latihan dan rencana kembali ke Indonesia berjalan dengan lancar dan aman.

Selain Penerbang TNI Angkatan Udara dua penerbang Test Pilot dari PT Dirgantara Indonesia (DI) Ester Gayatri saleh dan Novirsta Mafriando Rusli serta satu Flight Test Engineer Heru Riadhi Soenardi juga melakukan training dengan menggunakan pesawat C-295 di Airbus Military, Sevilla, Spanyol.

Pesawat C-295 buatan Airbus Military yang bekerja sama dengan PT DI direncanakan akan memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma menggantikan operasional pesawat F-27 yang belum lama dinyatakan tidak boleh terbang lagi oleh Pemerintah.

Sumber: TNI AU
Continue Reading | comments

Super Tucano Mendarat di Malang

Minggu, 02 September 2012

Empat pesawat Super Tucano beratraksi dengan membentuk formasi sebelum mendarat di Pangkalan Induk Skadron 21, Lanud Abd Saleh, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/9). Pesawat tempur Super Tucano yang menggantikan pesawat pengintai OV-10 Bronco tersebut mempunyai peralatan navigasi yang lebih canggih serta dilengkapi persenjataan peluru kendali, bom dan roket. (Foto: ANTARA/ARI BOWO SUCIPTO/ss/nz/12)

2 September 2012, Malang, Jawa Timur: Empat EMB-314 Super Tucano tipe kursi ganda tiba di Pangkalan Udara Utama Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Sabtu. Mereka dipiloti delapan pilot pabrikan Embraer, Brazil, yang mengantar dalam penerbangan selama 12 hari.

Di Malang, keempat Super Tucano dalam kofigurasi standar tanpa senjata itu diterima Panglima Komando Operasi Udara II TNI AU, Marsekal Muda TNI AU Agus Supriatna, dan sejumlah pucuk pimpinan setempat.

Super Tucano, pesawat kontra insurgensi dan intai strategis ditetapkan menggantikan OV-10F Bronco, yang dipensiunkan pada 2007.

"Pesawat ini belum diserahkan secara resmi, pada 17 September nanti baru ada penyerahan resmi ke negara atau TNI AU," kata Supriatna. Super Tucano ditempatkan di Skuadron Udara 21, skuadron udara yang sempat dinonaktifkan pada masa lalu.

Ia mengemukakan, TNI AU memesan 16 Super Tucano yang semuanya tipe kursi ganda. Batch pertama empat unit tiba, disusul batch kedua pada awal 2013 dan batch pamungkas pada akhir 2013. Di ASEAN, baru Indonesia yang menggunakan pesawat tersebut.

Namun negara-negara Amerika Latin sudah cukup lama memakai Super Tucano, di antaranya Venezuela, Brazil, dan Meksiko. Untuk mendaratkan keempat Super Tucano itu ke Indonesia, empat kapten pilot Embraer mengendalikannya, yaitu Almir Sumar De Azevedo, Carlos Moreira Chaster, Airton Manoel Rodrigues, dan William Souza.

Sumber: ANTARA News
Continue Reading | comments

Super Tucano Dijadwalkan Tiba di Indonesia 2 September

Jumat, 31 Agustus 2012


31 Agustus 2012, Jakarta: Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, menyiapkan hangar untuk menampung enam pesawat Super Tucano baru. Pada tahap awal, TNI Angkatan Udara akan menerima sebanyak empat unit pesawat tempur taktis dari pabrikan Embraer Brazil.

Dijadwalkan pesawat tiba 2 September setelah diterbangkan dari Brazil. "Tahap kedua, yakni Maret 2013, empat pesawat lagi dikirim," kata Komandan Skuadron 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Mayor (PNB) James Yanes Singal, Jumat, 31 Agustus 2012.

Kementerian Pertahanan meneken kontrak pemesanan pesawat Super Tucano sebanyak 16 unit hingga 2014. Pesawat itu akan menggantikan OV-10 Bronco yang di-grouded karena dianggap sudah tak laik terbang.

Pesanan pesawat tersebut sudah diberangkatkan dari Brazil dengan menempuh rute penerbangan Brazil-Maroko-Spanyol-Italia-Doha-Qatar-India-Thailand-Indonesia. Pesawat transit dan beristirahat di sejumlah negara sehingga total perjalanan mencapai 12 hari. "Istirahat demi keamanan dan konsentrasi penerbang," katanya.

Pesawat dikirim langsung produsen Super Tucano Embraer bersama delapan penerbang dan teknisi. Mereka bertugas mengirimkan pesawat hingga serah terima pada 17 September. Adapun para teknisi terus mengawasi pesawat hingga masa garansi setahun. Kini pesawat telah tiba di Pengkalan Udara Halim Perdana Kusuma.

Setelah melakukan perjalanan jauh, pesawat akan menjalani pemeriksaan fisik dan konfigurasi, lalu diikuti pengecekan terbang yang bakal diikuti bersama Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Letnan Kolonel Andi Wijaya dan James Yanes Singal. Keduanya telah menjajal pesawat yang berfungsi untuk serangan udara taktis.

Usai menjalani pemeriksaan, uji terbang, dan diserahterimakan dari Embraer, pesawat segera digunakan untuk operasi pengamanan. Namun, James tak bersedia mengungkapkan misi pertama yang bakal dilakukan Super Tucano (burung maskot Brazil). Pesawat berfungsi membantu tembakan udara ke darat membantu pasukan infanteri, patroli udara, dan serangan udara terbatas.

Total sebanyak 12 penerbang telah mengikuti pelatihan khusus untuk mengenal karakteristik pesawat asal Brazil. Para pilot sebelumnya berpengalaman menerbangkan OV-10, Hawk, Sukhoi dan F-5. Mereka dilatih selama sebulan di Brazil.

Selain itu, ada juga dukungan pelatihan dengan simulator atau computer based training dan simulator untuk menerbangkan pesawat di kawasan Skadron 21. Sebanyak 36 teknisi juga dilatih merawat pesawat.

Pesawat tempur ringan dengan call sign EMB 314 ini dicat kepala hiu berwarna merah di bagian moncongnya. Keempat Super Tucano TT-3101, TT-3102, TT-3103, dan TT-3104 ini mampu mengangkut peralatan tempur seperti persenjataan dan bom hingga 1.500 kilogram. Maksimal bisa mengangkut sekitar empat bom.

Sumber: TEMPO
Continue Reading | comments

Sukhoi dan Fighting Falcon Latihan "Fly Pass"

Selasa, 14 Agustus 2012

Sukhoi dan Fighting Falcon TNI AU diparkir di Lanud Halim Perdanakusumah setelah selesai berlatih terbang formasi. (Foto: TNI AU)

14 Agustus 2012, Jakarta: Pesawat Sukhoi dan F-16 latihan terbang melintas di atas Istana Merdeka pada gladi pertama, Selasa (14/8). Latihan Fly-pass ini dalam rangka upacara peringatan HUT RI ke-67 yang rencananya akan dipimpin oleh Kepala Negara Susilo Bambang Yodhoyono.

Komandan Skadron Udara 3 “Dragon F-16” Letkol Pnb Ali Sudibyo memimpin formasi “Double V” Garuda Elemen 1 yang terdiri dari lima pesawat F-16, sedangkan Komandan Skadron Udara 11 “Thunder Sukhoi” Letkol Pnb M. Untung Suropati memimpin formasi Garuda Elemen 2.

Garuda Flight merupakan call-sign yang digunakan, terbang melintas dengan ketinggian 1500 feet dengan kecepatan 420 knots. Sukhoi mengangkasa pukul 09.58 WIB diikuti F-16 pukul 10.00 WIB. Namun sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi awak pesawat atau Pre Flight Check (PFC).

Menurut Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; kegiatan ini merupakan sebentuk kehormatan dan penghargaan Pimpinan Negara kepada TNI AU. Sebab, ini kali kedua, pesawat-pesawat kebanggaan milik bangsa Indonesia, mengisi perayaan HUT Kemerdekaan RI. Yakni tahun 2011 dan 2012 pada bulan Agustus ini.

Rencananya akan dilakukan gladi kedua pada esok hari, Rabu (15/8). Turut pula mendukung keberhasilan aktivitas ini adalah pesawat NAS 332 Super-Puma sebagai kesiapan SAR. Ini sudah merupakan standar operasional. Pesawat ini siap untuk mendukung pergerakan pesawat tempur seandainya terjadi emergency-eject. “Kemana pesawat tempur pergi pasti ada heli stand-by selaku penanggungjawab pertolongan saat darurat”, tandas Kapten Pnb Guruh Mahardika pemimpin NAS 332 Super-Puma.

Sumber: TNI AU
Continue Reading | comments

Daftar Blog Saya

Popular Posts Today

Recent Post

Recent Posts
 
Copyright © 2011. Info HanKam - All Rights Reserved
Ping your blog, website, or RSS feed for Free Proudly powered by Blogger