Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan

Parlemen Dukung Pencairan Anggaran Alutsista

Selasa, 09 Oktober 2012

MLRS Astros II Mk 6 akan memperkuat satuan kavaleri TNI AD. (Foto: Berita HanKam)

9 Oktober 2012, Jakarta: DPR berkomitmen mendukung pencairan dana on top (dana yang tak diambil dari APBN, tapi langsung dianggarkan Bappenas) untuk penguatan alat utama sistem senjata (alutsista). Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengajukan dana on top pada 2013 sebesar 18,3 triliun rupiah.

"Asalkan untuk kepentingan alutsista, kami prinsipnya no problem. Apalagi itu sudah diprogram hingga 2014 mendatang," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, di Jakarta, Senin (8/10). Permintaan pengajuan dana itu masih dibahas di Badan Anggaran DPR. "Kami di Komisi I tinggal memastikan, kalau ada penyesuaian dana on top dari Banggar, penyesuaiannya berapa?" kata Tubagus.

Total dana on top alutsista yang dianggarkan pemerintah dari 2010 hingga 2014 sebesar 57 triliun rupiah. Dana itu sebagai tambahan untuk memenuhi kekuatan pokok minimal (minimum essential forces) untuk periode lima tahun itu sebesar 156 triliun rupiah. Dana itu terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 sebesar 99 triliun rupiah dan dana on top sebesar 57 triliun rupiah.

Kemhan menargetkan bisa mengadakan 45 jenis alutsista dari anggaran tersebut untuk Mabes TNI, TNI AD, TNI AU, dan TNI AL. Jumlah itu setara dengan 30 persen kekuatan MEF. Adapun MEF sendiri ditarget tercapai pada 2024 mendatang. Sebanyak 14 jenis alutsista di antaranya diperuntukkan bagi TNI AU, yang terdiri dari lima jenis pesawat tempur, tiga jenis pesawat angkut, dua jenis helikopter, dua jenis pesawat latih, serta beberapa jenis pesawat tanpa awak dan alutsista udara lain di luar radar.

Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, justru sedikit pesimistis semua dana on top bisa cair pada 2014. "Kementerian Pertahanan seharusnya mengajukan dana on top pada 2013 lebih besar lagi karena dana tersisa masih besar. Minimal diajukan 22 triliun rupiah agar bisa terserap maksimal," kata Mahfudz.

Menanggapi hal itu, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, optimistis dana on top bisa maksimal dipergunakan hingga 2014 mendatang. "Hingga 2013 sudah cair 29 triliun rupiah. Sisanya saya optimistis bisa dicairkan pada 2014 mendatang," kata Purnomo.

Adapun rincian dana on top yang sudah cair, antara lain hingga 2012 ini keluar sebesar 17 triliun rupiah, lalu pada 2013 diajukan sebanyak dua kali masing-masing sebesar 6 trilun rupiah. Sisanya sebesar 28 triliun rupiah akan dicairkan pada 2014. "Kita upayakan untuk bisa cair semua," ujar Purnomo.

Dengan demikian, target mencapai 30 persen kekuatan MEF pada 2014 bisa tercapai. Menhan bahkan optimistis bisa melampaui target MEF hingga 40 persen di masa akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Ini karena kita banyak ditawarkan alutsista hibah dari negara lain," kata dia. Hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat dinilai sangat signifikan menggenjot target pemenuhan MEF.

Sumber: Koran Jakarta
Continue Reading | comments

TNI AD Beli Alutsista Skema G to G untuk Maksimalkan Anggaran

Jumat, 05 Oktober 2012

Anggota TNI menyiapkan alat berat untuk persiapan Pameran Alutsista TNI AD di Lingkar Monas, Jakarta Pusat, Kamis (4/10). Pameran itu akan berlangsung 6-8 Oktober 2012 dalam rangka menyambut HUT TNI ke-67. (Foto: ANTARA/Fanny Octavianus/nz/12)

5 Oktober 2012, Jakarta: TNI AD akan memaksimalkan anggaran alat utama sistem senjata (alutsista) yang dialokasikan negara. Untuk itu, dalam pembelian alutsista dengan skema goverment to government (G to G) dan TNI AD tidak mau jika skema pembelian melibatkan pihak ketiga.

"Sayai ingin kerja sama pembelian alutsista langsung berhubungan dengan produsen. Anggaran alutsista untuk TNI AD boleh paling kecil, tetapi kalau saya bisa memaksimalkannya. Saya yakin alutsista yang akan kita beli dengan anggaran yang ada akan sangat mumpuni," kata Kepala Staf TNI AD (Kasad) Jenderal Pramono Edhie Wibowo saat memaparkan kesiapan alutsista TNI AD, di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Kamis (4/10).

Menurut Kasad, anggaran alutsista bagi TNI AD hanya 14 triliun rupiah. Bandingkan dengan anggaran alutsista untuk TNI AL dan TNI AU yang lebih dari 20 triliun rupiah. Namun, dengan skema G to G, TNI AD bisa membeli alutsista lebih banyak dari perkiraan. Seperti pembelian meriam multiple launch rocket system (MLRS) Atros yang direncanakan bisa membeli 1 batalion dengan anggaran 405 juta dollar Amerika Serikat (AS).

Nyatanya, dengan pendekatan G to G, TNI AD bisa mendapatkan 2 batalion lebih dengan anggaran yang sama. Sama halnya dengan pembelian meriam 155 milimeter/ Caesar dari Prancis. Anggaran sebesar 170 juta dollar AS yang diperkirakan hanya bisa membeli 1 batalion, tambah Kasad, justru berlipat dua dengan tanpa melibatkan pihak ketiga.

Bahkan, jumlah itu sudah termasuk dengan amunisinya. Kasad menegaskan, pihaknya tak akan menoleransi tindakan korupsi yang dilakukan oleh prajurit tingkat bawah hingga yang sudah berpangkat sekalipun. "Karena cikal bakal yang kecil itu yang bahaya. Kami harus setia pada aturan yang berlaku. Apalagi berkaitan dengan pembelian alutsista," tegas dia.

Berkomitmen

Untuk itu, Kasad berkomitmen sekecil apa pun adanya penyimpangan, harus ditindaklanjuti. "Pengadaan alutsista ini transparan," ujar dia. Oleh sebab itu, setiap pembicaraan mengenai alutsista selalu dipimpin Wakil Kasad dan membawa tim ahli. Pengoptimalan anggaran tersebut, ujar mantan Panglima Kostrad ini, semata-mata untuk menyiasati masih minimnya alokasi anggaran untuk sektor pertahanan.

Anggaran untuk pertahanan Indonesia saat ini belum menyentuh angkat 1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Idealnya, mencapai 2 persen dari PDB. Tak heran, TNI AD memprioritaskan pembelian senjata jarak jauh dengan tidak meninggalkan kemampuan prajurit. "Kenapa kita beli alat-alat semacam itu, karena ke depan kita butuh senjata jarak jauh," ujar dia.

Kasad juga menjelaskan dasar pengadaan alutsista mutlak harus berdasarkan pantauan peta kawasan, perkembangan kawasan, dan alutsista negara sahabat. "Yang miris, kita tidak bisa latihan kavaleri dengan negara sahabat karena alutsista kita tak seimbang," kata dia. Untuk tank, misalnya, saat ini Indonesia baru memiliki tank ringan.

Itu sebabnya, TNI AD ngotot ingin membeli tank Leopard agar setidaknya bisa mengimbangi alutsista negara tetangga. Sebelumnya diberitakan, bahwa TNI AD berencana memamerkan alutsista koleksinya. Alutsista yang akan dihadirkan mulai dari produk lama hingga yang terbaru. Pameran akan dilakukan pada Sabtu (6/10) hingga Senin (8/10) di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta.

"Pada pameran yang terbuka untuk umum itu, juga akan dihadirkan alutsista terbaru kami, yakni roket MLRS/Astros dari Brasil dan meriam 155 mm/Caesar dari Prancis," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad), Brigjen Sisriadi. Roket MLRS dibeli dari produsennya di Brasil.

Roket ini sudah teruji di berbagai arena pertempuran, terutama dalam perang teluk. Roket ini memiliki jangkauan tembak 85 kilometer. Sementara meriam 155 mm/Caesar yang dibeli dengan harga 170 juta dollar AS itu memiliki daya hancur, akurasi, dan daya geraknya yang mengagumkan. Tank Leopard dari Jerman batal dipamerkan.

Padahal, TNI AD berencana memamerkannya se kaligus mem perkenalkan tank tersebut kepada masyarakat. "Karena sesuai perjanjian dengan pemerintah, tank itu baru tiba ke Indonesia pada November 2012," tambahnya.

Sumber: Koran Jakarta
Continue Reading | comments

Presiden: Pembelian Alutsista Harus Bermanfaat 25 Tahun ke Depan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada HUT ke-67 TNI di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (5/10). Peringatan HUT TNI tersebut bertema "Dilandasi Profesionalisme, Semangat Juang dan Soliditas TNI Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah NKRI". (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/Spt/12)

5 Oktober 2012, Jakarta: Dalam upacara peringatan hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-67 di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (5/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI yang akan bermanfaat bagi pengembangan postur pertahanan negara hingga 25 tahun ke depan.

“Kita ingin setiap alutsista yang kita beli bermanfaat bagi pengembangan postur pertahanan negara kita saat ini dan 25 tahun ke depan. Kita juga terus melakukan pengadaan alutsista dari dalam negeri. Pengembangan industri pertahanan dalam negeri juga terus kita lakukan, untuk memperkuat kemandirian kita,” ujar Presiden Yudhoyono.

“Di samping itu, untuk kepentingan tertentu, kita juga membangun kerjasama dengan industri pertahanan negara-negara sahabat, dengan skema yang saling menguntungkan. Dengan cara itulah, Insya Allah, dalam beberapa tahun ke depan ini, kita akan menyaksikan hadirnya alutsista TNI yang semakin lengkap dan modern.”

Dalam pengadaan alutsista itu, Presiden Yudhoyono meminta agar prosedur pembelian dapat dipertanggungjawabkan, tidak menyimpang dan tidak mengalami kebocoran.

“Setiap rupiah anggaran pertahanan kita, tidak saja harus bermanfaat namun juga harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.”

Terkait hal itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Taufik Kiemas, yang hadir dalam acara itu memastikan MPR telah meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar tidak ragu-ragu dalam meloloskan anggaran pembelian alutsista TNI.

“Saya sudah bilang pada DPR, kalau soal ideologi dan senjata, kita tidak usah ragu-ragu,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua III Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Mayjen TNI Purn. Sukotjo Tjokroatmodjo menegaskan DPR harus segera mencairkan anggaran untuk pembelian alutsista, karena itu semua menurutnya adalah berasal dari uang rakyat.

“Itu tergantung rakyat, punya uang atau tidak? DPR itu tinggal mengeluarkan, tidak usah pikir-pikir lagi. Semua itu kan uang rakyat.”

Dua pesawat tempur Super Tucano melintas ketika berlangsungnya HUT ke-67 TNI di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (5/10). (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/Spt/12)

Untuk TNI Angkatan Darat, dalam waktu dekat ini akan segera hadir beberapa unit alutsista diantaranya 2 batalion tank tempur utama, kendaraan tempur panser Canon, meriam artileri medan dan pertahanan udara sampai dengan kaliber 155 mm, roket multi laras taktis dan strategis, peluru kendali pertahanan udara, serta sejumlah helikopter serang dan helikopter serbu.

Untuk Angkatan Laut, akan segera hadir antara lain kapal perang Korvet Klas Sigma, kapal selam diesel elektrik, kapal cepat rudal, pesawat patroli maritim dan roket multilaras taktis.

Sementara itu, sejumlah alutsista baru TNI Angkatan Udara adalah pesawat angkut sedang CN 295, pesawat latih, helikopter full combat SAR, sejumlah pesawat angkut Hercules C130 H, pesawat tempur Super Tucano, Sukhoi-27 MK-2, pesawat tempur T50, serta 24 unit pesawat tempur F-16.

Sumber: VOA
Continue Reading | comments

Parlemen Setuju Penambahan Anggaran Kemhan Rp 18,3 Triliun

Selasa, 02 Oktober 2012

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (dua kanan), Panglima TNI Agus Suhartono (kanan) dan Direktur Anggaran III Kemenkeu Sambas Mulyana (dua kiri) dan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di kompeks MPR DPR Senayan, Jakarta, Rabu (5/9). Rapat kerja tersebut membahas dana optimalisasi Kementerian Pertahanan tahun anggaran 2012 sebesar Rp 678 miliar serta pemberangkatan tiga unit Mi-17 ke Kongo dalam rangka penguatan pasukan perdamaian Indonesia di Kongo. (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean/ed/ama/12)

3 Oktober 2012, Jakarta: Anggota Komisi I DPR RI Fayakhun Andriadi mengatakan, usulan penambahan anggaran dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebesar Rp 18,325 triliun di luar pagu definitif Kemhan tahun 2013 sebesar Rp 77,7 triliun berpotensi untuk disetujui.

Sebab, pengajuan tambahan anggaran Kemhan sebesar Rp 18,3 triliun untuk 2013 itu merupakan bagian anggaran alutsista Minimum Essential Force (MEF) untuk 2010-2014 yang mencapai Rp 156 triliun, terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 sebesar Rp 99 triliun dan alokasi on top berdasar arahan rapat kabinet terbatas 4 Oktober 2010 sebesar Rp 57 triliun.

"Saya rasa ajuan penambahan anggaran. Kemenhan untuk 2013 sebesar Rp 18,3 triliun itu kita akan dukung, karena itu merupakan anggaran yang masuk dalam on top. Cuma yang perlu kita dalami nantinya soal sumbernya bagaimana. Memang itu uangnya dari APBN juga, cuma untuk program MEF yang alokasi pencairannya secara bertahap itu, memang tidak secara jelas disebutkan," ujar Fayakhun Andriadi kepada Jurnalparlemen.com, Rabu (3/10).

Hal ini disampaikan Fayakhun terkait Raker dengan Menhan di Komisi I, Senin (1/10), yang membahas RKA/KL 2013. Saat itu, Kemhan mengajukan dana tambahan sebesar Rp 18,3 triliun. Fayakhun yang juga anggota Banggar dari Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, yang perlu dipertajam dalam rapat berikutnya adalah tambahan itu digunakan untuk apa saja. Usulan tambahan anggaran 2013 sekitar Rp 18,3 triliun ini sendiri terdiri dari penambahan anggaran untuk Kemhan Rp 672,34 miliar, Mabes TNI Rp 1,260 triliun, TNI AD Rp 9,283,93 triliun, TNI AL Rp 3,237 triliun, dan TNI AU Rp 3,871 triliun. Total Rp 18,325 triliun.

Sementara, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyatakan tidak optimistis, jika program MEF 2010-2014 dengan anggaran lewat on top sebesar Rp 57 triliun akan terserap semua. "Justru seharusnya untuk anggaran on top di 2013 diajukan lebih besar lagi. Karena dikhawatirkan pada tahun terakhir 2014, dana yang tersisa masih besar, tidak terserap secara maksimal. Harusnya ajuan tambahan anggaran di 2013 ya Rp 22 triliun," ujarnya.

Seperti diketahui, Pemerintah menganggarkan Rp 156 triliun untuk penyediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI pada periode 2010-2014. Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebelumnya menjelaskan bahwa anggaran alutsista untuk memenuhi MEF untuk 2010-2014 mencapai Rp 156 triliun yang terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 sebesar Rp 99 triliun dan alokasi on top berdasar arahan rapat kabinet terbatas 4 Oktober 2010 sebesar Rp 57 triliun.

Dari alokasi Rp 99 triliun tersebut, Rp 32,5 triliun digunakan untuk belanja barang dan Rp 66,6 triliun untuk belanja modal. Dana belanja modal itu terdiri atas pinjaman luar negeri sebesar 6,5 miliar dolar AS dan sisanya berasal dari pinjaman dalam negeri. Pemerintah, kata Menkeu, sudah menerbitkan penetapan sumber pembiayaan (PSP) sebesar 5,7 miliar dolar AS. Artinya, masih ada sekitar 0,8 miliar dolar AS belanja modal yang belum didukung pembiayaannya, dan menurut Menkeu masih akan dievaluasi dalam pengajuan pembiayaan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana menambahkan, inisiatif baru pengadaan alutsista sebesar Rp 57 triliun tersebut sudah ditetapkan dalam Keppres 35/2011 tentang Percepatan Pemenuhan Kekuatan Pokok Minimal Alutsista TNI Tahun 2010-2014, yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 27 Desember 2011.

Kata Armida, alokasinya bertahap yaitu Rp 7 triliun pada 2010, Rp 4 triliun pada 2011, Rp 6 triliun pada 2012, dan Rp 40 triliun pada 2013-2014. Semuanya disesuaikan dengan kemampuan anggaran negara dan dengan mekanisme yang berlaku.

Sumber: Jurnal Parlemen
Continue Reading | comments

Bangkai KRI Klewang Ditarik ke Galangan Kapal

(Foto: North Sea Boats)

2 Oktober 2012, Banyuwangi: Bangkai KRI Klewang yang terbakar Jumat 28 September 2012 lalu, kini mulai dipindahkan dari dermaga Pangkalan TNI AL Banyuwangi.

Penarikan bangkai kapal dimulai Selasa, 2 Oktober 2012 pukul 11.30 WIB menggunakan satu unit kapal tunda (tugboat) dan sekoci. Dari bangkai kapal itu, terlihat bagian lambung bawah yang patah menjadi dua bagian.

Menurut karyawan PT Lundin Industry Invest yang ikut dalam penarikan, bangkai KRI Klewang akan dibawa ke galangan kapal perusahaan itu di Kelurahan Sukowidi, Banyuwangi. Jarak antara dermaga TNI AL ke galangan PT Lundin sekitar 3 mil. Kedua galangan tersebut masih berada di Selat Bali.

Proses penarikan bangkai kapal senilai Rp 114 miliar itu terhambat karena berlawanan dengan arah angin. Bangkai ditarik ke arah selatan, sementara angin di Selat Bali mengarah ke utara. Sehingga tugboat dan sekoci terlihat terombang-ambing di seputar dermaga.

Selain menarik bangkai KRI Klewang, PT Lundin juga mengerahkan pekerjanya untuk mengecat ulang dermaga TNI AL yang ikut hangus terbakar. Dermaga yang sebelumnya menghitam itu kini dicat dengan warna putih biru.

Direktur PT Lundin Industry Invest, Lizza Lundin, enggan menjelaskan soal penarikan bangkai KRI Klewang itu. "Saya masih rapat di Cilangkap," katanya saat dihubungi Tempo.

Kemarin, Lizza mengatakan mengerahkan 60 karyawannya untuk mengangkat bangkai KRI Klewang tersebut. Bangkai dibawa ke galangan milik PT Lundin guna dievaluasi lebih lanjut.

KRI Klewang terbakar pada Jumat sore, 28 September 2012. Berdasarkan hasil penyelidikan PT Lundin, kapal pesanan TNI AL itu terbakar karena korsleting listrik saat pemasangan mesin dan instalasi listrik dari galangan ke kapal.

Sumber: TEMPO
Continue Reading | comments

Daftar Blog Saya

Popular Posts Today

Recent Post

Recent Posts
 
Copyright © 2011. Info HanKam - All Rights Reserved
Ping your blog, website, or RSS feed for Free Proudly powered by Blogger