Tampilkan postingan dengan label Cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cina. Tampilkan semua postingan

Cina Berniat Hibahkan Alutsista kepada Indonesia

Rabu, 09 Mei 2012

Kapal patroli tipe 62C Shanghai-II.

9 Mei 2012, Jakarta: Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hartind Asrin mengatakan saat ini belum ada bantuan atau hibah alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari negeri Cina kepada Indonesia.

"Tetapi Cina sudah merencanakan (untuk) memberi bantuan (alustsista)," kata Hartind di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa, 8 Mei 2012, malam. Namun, ia belum mengetahui persis bentuk hibah alutsista yang akan diberikan Cina.

Menurut Hartind, saat ini petinggi-petinggi negeri tirai bambu masih melakukan berbagai kunjungan ke Indonesia untuk mengetahui kebutuhan alutsista di Indonesia. "Kira-kira apa yang diawasi dan apa yang perlu dibantu," ujar dia.

Jika Cina setuju menghibahkan alutsista, Hartind mengatakan bantuan dalam bentuk kapal patroli akan sangat berguna bagi Indonesia. "Kapal patroli kita masih kurang. (Padahal) dua per tiga wilayah kan laut," ucapnya. "Tetapi belum diputuskan pemerintah." Atas niat Cina menghibahkan alutsistanya, Hartind menguraikan pemerintah menyambut dengan positif."(Pemerintah) menerima. Prinsipnya kan politik bebas aktif," kata dia.

Bagi Indonesia, hibah alutsista dari negara lain bukan hal asing. Saat ini Indonesia tengah menunggu kedatangan 24 unit pesawat tempur jenis F-16 hasil hibah dari Amerika Serikat. Kedatangan 24 pesawat tempur itu akan dilakukan secara bertahap mulai pertengahan 2014 mendatang.

Sumber: Tempo
Continue Reading | comments

Kapal Induk Cina Uji Coba Pendaratan Jet Tempur

Sabtu, 13 Agustus 2011

Kapal induk Shi Lang (eks-Varyag) sedang dibangun di galangan kapal di Dalian. (Photo: huanqiu.com)



13 Agustus 2011, Jakarta (Berita HanKam): Kapal induk China pertama Shi Lang yang sedang melakukan pelayaran perdana melakukan simulasi pendaratan jet tempur, Sabtu (13/8) diberitakan Harian Global Times.



Pendaratan jet tempur dilakukan bila kondisi cuaca memungkinkan, tetapi jet tempur segera lepas landas sesaat mendekati kapal induk menggantikan pendaratan nyata, menurut sumber terpecaya dikutip Harian Global Times, Jumat (12/8).



Sumber menambahkan jet tempur yang digunakan produksi lokal J-15 Flying Shark.





Kapal induk Shi Lang (eks-Varyag) sedang dibangun di galangan kapal di Dalian. (Photo: huanqiu.com)



Simulasi ini ditujukan menguji sistem radar dan optical landing kapal induk, setelah meninggalkan galangan kapal Dalian untuk memulai pelayaran uji coba.



Seorang staf Humas Kementrian Pertahanan Nasional menolak memberikan komentar pemberitaan Global Times, ia mengatakan tidak ada pemberitaan mengenai kapal induk.



Administrasi Keamanan Maritim Liaoning mengeluarkan pengumuman Rabu (10/8), melarang komunikasi navigasi dan radio pada radius 31,5 km pada Sabtu (13/8) disekitar Timurlaut Laut Bohai. Hal ini merebakan spekulasi jet tempur akan diuji coba di kapal induk.



Sumber: Global Times

Continue Reading | comments

Kapal Induk Pertama Cina Memulai Pelayaran Perdana

Selasa, 09 Agustus 2011

Varyag di galangan kapal di pelabuhan Dalian. (Foto: Xinhua)



10 Agustus 2011, Dalian (Berita HanKam): Kapal induk pertama China meninggalkan galangan kapal di pelabuhan Dalian, Provinsi Liaoning pada Rabu (10/8) pagi untuk memulai perlayaran pertama.



Sumber militer Cina mengatakan perlayaran pertama sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan tidak memakan waktu lama. Setelah kembali dari berlayar kapal induk akan direfit kembali dan diuji coba.



Kapal induk tersebut pada mulanya dibangun oleh bekas Uni Sovyet dan diberi nama Varyag. Pembangunan dimulai pada era-198o dan dihentikan pada 1992 setelah kejatuhan Uni Sovyet. Varyag ditempatkan di galangan kapal di Ukraina dan dibeli oleh perusahaan Cina berbasis di Makao senilai 20 juta dolar pada 1998. Perusahaan ini mengklaim kapal induk akan diubah menjadi wahana hiburan. Kapal induk tiba di galangan kapal Dalian untuk diperbaiki Maret 2002, diharapkan kapal induk akan dioperasikan Angkatan Laut sekitar 2012.



Sumber: Xinhua

Continue Reading | comments

Militer China yang Semakin Modern

Selasa, 01 Februari 2011

Prototipe jet tempur siluman Cina J-20 terlihat di Chengdu, provinsi Sichuan, 7 Januari 2011. (Foto: Reuters)

2 Februari 2011 -- (KOMPAS): Tanggal 10 Januari lalu menjadi momen yang penting bagi militer China. Walaupun masih dalam tahap uji coba, suksesnya uji terbang prototipe pesawat siluman (stealth) J-20 itu menjadi bukti dari pencapaian yang signifikan bagi China, khususnya industri pertahanannya.

Berita soal uji terbang pesawat siluman J-20 oleh China itu menjadi perhatian dunia karena dilangsungkan menjelang kunjungan empat hari Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates ke China. Dan, menjelang kunjungan Presiden China Hu Jintao ke Washington DC, Amerika Serikat.

Namun, China berupaya agar berita tentang pesawat siluman J-20 itu tidak dibesar-besarkan sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran pada negara-negara tetangga. China pun menyatakan, pembuatan pesawat siluman itu semata-mata untuk memodernisasi kemampuan militernya dalam mempertahankan negaranya yang sangat luas itu. Sama sekali tidak ada niatan pada militer China untuk mengancam negara lain. Kebijakan pertahanan nasional China bersifat defensif.

Menurut militer China, dibandingkan dengan luas wilayah negara dan jumlah penduduknya, kekuatan militer China tergolong moderat. Bahkan, lemah apabila dibandingan dengan kekuatan militer negara-negara Barat. Militer China jangan dilihat sebagai tengah mencari hegemoni, memperbesar kekuatan militer, maupun perlombaan senjata. Militer China bukan ancaman bagi negara lain.

China mengklaim bahwa negaranya selalu membantu menjaga stabilitas dan perdamaian dunia. Apabila terjadi konflik, China selalu mengupayakan penyelesaian secara damai melalui jalur-jalur diplomatik. Perundingan enam pihak yang melibatkan China, Amerika Serikat, Rusia, Jepang, serta Korea Selatan dan Korea Utara untuk membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan konflik kedua Korea itu merupakan salah satu bukti kesungguhan China.

Agar persenjataan nuklir China tidak dibesar-besarkan hingga berkembang tidak terkendali, China mengundang Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates untuk berkunjung ke Pusat Komando Nuklir China. Dalam kunjungannya ke Pusat Komando Nuklir China, Gates mendapatkan gambaran singkat mengenai komando strategis nuklir dan kebijakan nuklir China.

Menurut Gates, dalam kunjungan itu, China sempat membicarakan tentang strategi nuklir dan pendekatan menyeluruh China terhadap konflik, termasuk kebijakan China untuk tidak menggunakan senjata nuklir untuk serangan pre-emptive (serangan untuk mematahkan serangan). ”Pembicaraan di tempat itu berlangsung cukup terbuka,” ujar Gates. Ia menambahkan, dalam kunjungannya, Jenderal Jing Zhiyuan, Komandan Pasukan Nuklir China, menerima undangannya untuk berkunjung ke Pusat Komando Strategis Amerika serikat di Nebraska.

Baik China maupun Amerika Serikat sama-sama memiliki misil jarak jauh yang dapat menjangkau garis pantai masing-masing, tetapi kedua negara menegaskan bahwa mereka tidak berniat untuk menggunakannya.

Bukan lagi yang lama

Militer China bukan lagi militer China yang lama, yang mengandalkan jumlah prajurit. China telah berubah menjadi salah satu negara industri besar, karena itu dengan sendirinya postur militer China pun berubah menjadi militer yang modern.

Pada akhir tahun 2005, China baru saja menyelesaikan putaran terakhir pengurangan personel sebanyak 200.000 orang. Dengan pengurangan tersebut, personel Angkatan Bersenjata China berjumlah sekitar 2,3 juta orang. Dengan memasukkan milisi dan pasukan cadangan, jumlah total personel Angkatan Bersenjata China mencapai 3,2 juta. Dan, dalam memodernisasi kemampuan angkatan bersenjatanya, China mendapatkan bantuan dari Rusia.

Keberhasilan China mengirimkan orang keluar angkasa dengan pesawat ruang angkasa Shenzou 5, dan kembali dengan selamat di Bumi, menjadikan China dapat disejajarkan dengan Rusia dan Amerika Serikat. Rusia pertama kali menerbangkan Yuri Gagarin dengan dengan pesawat Vostok pada 12 April 1961, diikuti Amerika Serikat yang menerbangkan John H Glenn Jr dengan pesawat Mercury-Atlas Friendship 7 pada 20 Februari 1962. China mengirimkan Yang Liwei ke ruang angkasa dengan pesawat Shenzou 5 pada 15 Oktober 2003.

Memang, dibandingkan dengan Rusia dan Amerika Serikat, China tertinggal 40 tahun, tetapi dari 195 negara di dunia saat ini, China adalah nomor tiga, suatu prestasi yang tidak dapat dianggap remeh.

Disebut-sebut, China ”mencuri” teknologi stealth dari pesawat Amerika Serikat yang ditembak jatuh oleh misil Serbia tahun 1999 dalam perang Kosovo. Namun, China membantah hal itu. Lepas dari hal itu benar atau tidak, tetapi dalam industri pesawat terbang China memang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Di masa lalu, di masa Perang Dingin, dengan bekerja sama dengan Rusia (dulu Uni Soviet), China memproduksi pesawat tempur MiG. Pada tahun 2006, China yang membeli pesawat tempur terbaru dari Rusia, termasuk pesawat multiperan Su-30MKK dan pesawat pemukul maritim Su-30MK2, guna melengkapi pesawat tempur Su-27 yang sudah lebih dulu ada. Dan, pada saat itu, China tengah memproduksi versi sendiri dari Su-27SK, F-11, di bawah lisensi Rusia. Bahkan, diberitakan bahwa tahun sebelumnya, China tengah mengupayakan negosiasi ulang kesepakatan untuk memproduksi pesawat multiperan Su-27SMK.

Bukan itu saja, pada tahun 2010, China juga memproduksi pesawat berbadan lebar Airbus A320 di kawasan industri yang baru dikembangkan di Tianjin Binhai. Kawasan industri baru di Tianjin Binhai itu akan menjadi pusat industri penerbangan dan dirgantara, petrokimia, dan energi alternatif.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada akhirnya China dapat membuat pesawat siluman J-20 yang diuji terbang pada 10 Januari lalu. Sebagaimana diberitakan, uji terbang itu berlangsung sukses. Namun, yang masih harus diuji coba adalah seberapa siluman pesawat tersebut, atau seberapa besar kemampuan pesawat itu bersembunyi dari deteksi radar.

Secara umum, sosok pesawat tersebut bisa dikatakan mirip pesawat yang dibuat Amerika Serikat dan Rusia, seperti F-22 Raptor, F-35 Lightning II, dan prototipe Sukhoi T-50. Namun, badan pesawat J-20 lebih panjang dibandingkan dengan F-22 Raptor. Sekilas mengingatkan pada desain pesawat YF-23 buatan Northrop/McDonnell Douglas yang kalah tender dengan F-22 pada program pengadaan pesawat tempur masa depan AS. Badan yang panjang ini menimbulkan dugaan bahwa pesawat tersebut memiliki daya jelajah dan kemampuan membawa senjata lebih besar dibandingkan Raptor.

Disebut-sebut bahwa pesawat siluman J-20 ini akan mulai dioperasikan oleh Angkatan Udara China paling cepat pada tahun 2017. Pesawat itu disebut mampu mencapai kawasan Guam milik AS di tengah Samudra Pasifik dan akan dipersenjatai dengan rudal-rudal berkemampuan tinggi.

Para pejabat militer Amerika Serikat sendiri tidak khawatir bahwa J-20 akan menjadi ancaman bagi F-22 Amerika Serikat dalam waktu dekat. Pertama, masih belum jelas kapan pesawat siluman itu akan dioperasikan. Kedua, mengembangkan kemampuan siluman dengan prototipe, dan mengintegrasikannya ke lingkungan tempur yang sesungguhnya diperlukan waktu.

Juru bicara Pentagon, Kolonel Dave Lapan, menambahkan, sampai saat ini China masih menghadapi masalah dengan mesin-mesin pesawat tempur generasi sebelumnya. ”Menurut perkiraan kami, China baru akan mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima sekitar akhir dekade ini,” katanya.

Pertanyaan yang tetap menggantung adalah benarkah modernisasi militer China berbahaya bagi negara-negara tetangganya? Jawabannya bisa macam-macam, tergantung siapa yang menjawabnya. Jika Amerika Serikat yang menjawab, maka jawabannya adalah modernisasi militer China akan berbahaya bagi negara-negara tetangganya dan bagi militer Amerika Serikat di Pasifik.

Namun, sesungguhnya, modernisasi militer China diperlukan untuk mengimbangi kekuatan militer Amerika Serikat di Asia Pasifik. Membiarkan Amerika Serikat menjadi satu-satunya kekuatan penentu di Asia Pasifik tidaklah bijaksana. Sebaliknya, membiarkan China menjadi satu-satunya kekuatan penentu di Asia Pasifik juga tidak baik. Diperlukan keseimbangan yang baik di antara dua kekuatan besar di Asia Pasifik itu.

Mengenai hubungan China dengan Taiwan diperkirakan tidak akan ada yang berubah, sejauh Taiwan tidak melakukan tindakan atau mengambil kebijakan yang membahayakan dirinya sendiri. Jika Taiwan tetap memelihara keadaan status quo seperti saat ini, maka keadaannya akan baik-baik saja. Keadaan akan runyam jika Taiwan memutuskan untuk secara resmi memisahkan diri dari China dengan mendeklarasikan kemerdekaannya. Mengingat China sudah mengesahkan Undang-Undang Antipemisahan yang membenarkan penggunaan cara-cara nondamai terhadap Taiwan apabila semua cara damai mengalami jalan buntu.

Amerika Serikat—yang berhubungan baik dengan China, mempunyai perjanjian untuk membantu Taiwan membela diri apabila diserang oleh China—tidak memiliki pilihan lain kecuali mendorong China dan Taiwan untuk sama-sama menjaga status quo.

Sumber: KOMPAS
Continue Reading | comments

Jet Siluman Cina J-20

Sabtu, 08 Januari 2011


8 Januari 2010 -- (Berita HanKam): Jet tempur siluman J-20 terlihat diparkir landasan setelah menjalani pengujian di Chengdu, Provinsi Sichuan, Rabu (5/1). Surat kabar Jepang Asahi Shimbun mengutip pernyataan sumber militer Cina, J-20 direncanakan akan dioperasikan awal 2017. Jet siluman ini akan dipersenjatai rudal berat dan dapat mencapai Guam dengan pengisian bahan bakar di udara. Cina memerlukan waktu 10 - 15 tahun untuk mengembangkan teknologi jet tempur silumannya agar setaraf dengan jet siluman buatan Amerika Serikat F-22, tambah sumber.

Sumber: AP/Reuters/AFP
Continue Reading | comments

Membaca Ambisi China di Lautan

Sabtu, 01 Januari 2011

Seorang tentara Angkatan Laut China berjalan melalui kapal rudal Varyag yang berada di dok Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China, 20 April 2010. Dalam waktu dekat, China akan meluncurkan kapal induknya yang dibangun dari kapal induk setengah jadi eks Ukraina. (Foto: Getty Images/Guang Niu)

2 Januari 2011 -- (KOMPAS): Tahun 2011 akan menjadi tahun bersejarah bagi China. Jika tak ada perubahan rencana lagi, negeri Tirai Bambu itu akan meluncurkan kapal induk pertamanya, setahun lebih awal dari perkiraan.

Seorang pejabat pemerintah pusat China mengatakan kepada Reuters, kapal induk pertama China itu akan diluncurkan sekitar awal Juli. ”Periode sekitar tanggal 1 Juli, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Partai Komunis, adalah salah satu kemungkinan waktu (peluncuran kapal) itu,” tutur pejabat yang meminta tak disebut namanya ini.

China akan menjadi negara ketiga di Asia, setelah India dan Thailand, yang memiliki armada kapal induk. Namun, jangan bandingkan kapal induk baru ini dengan INS Viraat (berbobot 28.700 ton dalam kondisi muatan penuh; panjang 226,5 meter) milik India atau HTMS Chakri Naruebet (11.486 ton; 182,65 meter) milik Kerajaan Thailand.

Kapal induk China—yang menurut Jane’s Fighting Ships akan diberi nama Shi Lang, yakni nama laksamana China dari Dinasti Qing pada abad ke-17—berbobot 67.500 ton dengan panjang 300 meter. Dibandingkan dengan kapal induk super (supercarrier) kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, Shi Lang lebih pendek 32 meter.

Kapal ini dibangun dari bekas kapal induk Uni Soviet, Varyag, yang pembangunannya terhenti pada awal 1990-an seiring bubarnya negara adidaya komunis itu. Kapal ini sekelas dengan kapal induk Admiral Kuznetsov, yang masih menjadi satu-satunya kapal induk yang dioperasikan AL Rusia sampai saat ini.

Tahun 1998, sebuah perusahaan swasta Makau membeli kapal setengah jadi itu seharga 20 juta dollar AS dari Pemerintah Ukraina. Informasi awalnya, kapal ini akan dijadikan kasino terapung di pelabuhan Makau.

Namun, pada perkembangannya, kapal yang belum memiliki mesin, kemudi, dan perlengkapan komunikasi serta navigasi ini ternyata ditarik ke sebuah galangan kapal milik Pemerintah China di Pelabuhan Dalian, China timur laut.

Badan kapal yang mulai berkarat pun dibersihkan dan belakangan dicat dengan warna khas kapal-kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Diduga, China membangun sendiri kapal itu menjadi kapal operasional, sebagai bagian dari latihan sebelum memproduksi kapal induk yang 100 persen buatan China.

Jika disamakan dengan Admiral Kuznetsov, Shi Lang akan mampu mengangkut 41 pesawat, terdiri atas 17 pesawat sayap tetap (fixed-wing) sekelas Sukhoi Su-33 dan Sukhoi Su-25, dan 24 helikopter (rotary wing) sekelas Kamov Ka-27. China dikabarkan sudah memesan 50 pesawat Su-33, dengan spesifikasi mampu tinggal landas dari kapal induk, kepada Rusia.

Kapal ini belum menggunakan sumber tenaga nuklir dan tak memiliki sistem ketapel uap untuk meluncurkan pesawat, seperti kapal-kapal induk utama AS. Sebagai gantinya, di ujung geladak kapal dilengkapi dengan ski-jump, atau landasan yang menyudut ke atas, membantu pesawat ”meloncat” untuk mengudara.

Sebelumnya, Dinas Intelijen AL AS memperkirakan, kapal eks Varyag itu akan digunakan sebagai basis latihan pada 2012, sebelum China meluncurkan sendiri kapal induk buatannya setelah 2015. Menurut Michael Mazza, peneliti senior dari Center for Defense Studies (www.defensestudies.org), China berencana membangun empat kapal induk—dua kapal bertenaga nuklir dan dua kapal konvensional—dalam 15 tahun.

Peluncuran kapal induk berkekuatan penuh menandai era baru strategi militer China dan membuktikan ambisi lama negara itu untuk membangun kekuatan AL ”Laut Biru” (blue-water navy), yakni AL yang mampu beroperasi jauh ke tengah samudra, memproyeksikan kekuatan militer China jauh dari rumah.

Syarat keunggulan

Ambisi ini, menurut artikel yang ditulis Ian Storey dan You Ji di GlobalSecurity.org, sudah ada sejak era Laksamana Liu Huaqing, Panglima AL China dan Wakil Ketua Komisi Militer Sentral era 1980-an.

Menurut Liu, setelah China menguasai strategi ”Laut Hijau”, (kekuatan angkatan laut untuk mempertahankan laut teritorial dan garis pantai), China harus menguasai strategi ”Laut Biru”, dengan tujuan mampu memproyeksikan kekuatan hingga kawasan barat Samudra Pasifik.

Liu percaya, satu-satunya cara menjalankan strategi ”Laut Biru” adalah dengan memiliki armada kapal induk yang mampu membawa pesawat tempur, karena keunggulan di laut hanya bisa diraih melalui superioritas dari udara. Sementara gagasan pesawat yang tinggal landas dari wilayah China daratan dan dilanjutkan dengan mengisi bahan bakar di udara dianggap terlalu rentan dari serangan musuh yang mampu menerbangkan pesawat pemburu dari kapal induk mereka.

Namun, ambisi Liu ini tak bisa langsung dikerjakan waktu itu karena pada era 1980-an, Tentara Pembebasan Rakyat China masih konsentrasi menahan ancaman Uni Soviet. Baru setelah raksasa komunis itu bubar (1991), China bisa mengalihkan perhatian ke kawasan Laut China Selatan dan Taiwan.

China membutuhkan kekuatan laut yang tangguh untuk menghadapi konflik di kawasan selatan dan tenggara ini. Gagasan membangun AL ”Laut Biru” yang diperkuat kapal induk pun bangkit lagi.

Untuk mewujudkan ambisinya itu, China membeli tak kurang dari empat kapal induk bekas, yakni HMAS Melbourne dari Australia (dibeli tahun 1985) dan tiga kapal eks Uni Soviet/Rusia, yakni Minsk (1998), Varyag (1998), dan Kiev (2000). China berniat membangun sendiri kapal induknya dengan mempelajari rancang bangun kapal-kapal induk itu. Tawaran kontrak penjualan kapal induk dari Spanyol dan Perancis ditolak oleh China.

Sebelumnya, para pengamat militer menilai, proyek kapal induk China ini terlalu ambisius dan tak akan mampu berbuat banyak untuk menandingi armada kapal induk AS, satu-satunya potensi musuh utama China jika meletus konflik di Taiwan, Korea, dan Laut China Selatan. Alih-alih coba menandingi armada AL AS, pengamat memprediksi China akan menjalankan strategi perang asimetris, yakni dengan mengembangkan peluru kendali (rudal) pelumpuh kapal induk.

Generasi terbaru rudal balistik antikapal milik China, Dong Feng (Angin Timur) DF 21D, yang mampu melesat dengan kecepatan Mach 10 dan berdaya jelajah 3.000 kilometer, diperkirakan akan mulai diuji coba tahun ini dan akan operasional dalam 3-5 tahun mendatang.

Mengubah Asia Timur jauh

Namun, kabar bahwa China juga akan meluncurkan kapal induk pertamanya tahun ini membuktikan ambisi lama itu belum hilang dan pengembangan misil pembunuh kapal induk itu hanyalah satu bagian dari strategi besar China di lautan.

Meski China selalu berkilah program pengembangan militernya adalah untuk tujuan damai dan pertahanan diri, pengoperasian armada kapal induk oleh China tak bisa tidak akan mengubah peta kekuatan di kawasan Asia Timur-Asia Tenggara.

Mazza mengingatkan, kapal induk mewakili kemampuan memproyeksikan kekuatan, yakni membawa kekuatan militer keluar dari wilayah negara itu ke titik mana pun yang ia kehendaki. Jadi sudah tidak melulu menjadi kekuatan bertahan suatu negara.

Dengan klaim teritorial China terhadap Kepulauan Spratly dan Paracel di Laut China Selatan dan Taiwan, dukungannya terhadap Korea Utara, dan konflik teritorial panas dengan Jepang beberapa waktu lalu, pengoperasian armada kapal induk China akan makin menguatkan dugaan selama ini bahwa China tak akan ragu-ragu menggunakan ”diplomasi kapal perang” untuk memaksakan kehendaknya sebagai kekuatan dominan di kawasan.

Storey dan You menambahkan, negara-negara anggota ASEAN, terutama yang bersengketa langsung dengan China dalam urusan Spratly dan Paracel, akan memperkuat kerja sama militer dengan AS. Sementara Jepang hampir dapat dipastikan akan membangkitkan kembali program kapal induknya, yang pernah terbukti sangat menakutkan di era Perang Dunia II.

Kawasan Asia Timur Jauh pun memasuki realitas baru. Di tata dunia baru ini, akan berada di manakah posisi Indonesia?. (Dahono Fitrianto)

Sumber: KOMPAS
Continue Reading | comments

Panglima PACOM: Cina dalam tahap menguji rudal anti kapal

Rabu, 29 Desember 2010


29 Desember 2010 -- Cina diperkirakan akan mengoperasikan sistem rudal balistik anti kapal dalam beberapa tahun diungkapkan Panglima Komando Pasifik AS Laksamana Robert Willard saat diwawancarai harian Jepang Asahi Shimbun di Honolulu, Hawaii.

Para ahli militer AS memperingatkan bahwa Cina tengah mengembangkan rudal balistik anti kapal Dongfeng 21, mampu melumat kapal induk tenaga nuklir yang sedang bergerak.

Willard mengatakan Cina sedang melakukan pengujian ekstensif sistem rudal balistik anti kapal. Jika meminjam istilah Barat, dalam tahapan "initial operational capability". Pihak AS belum melihat rudal ini diuji coba di laut, uji terbang sesungguhnya ataupun pengujian menyerang kapal perang yang bergerak. Tetapi pihak AS yakin bagian komponen rudal telah dikembangkan dan diuji.

Sistem rudal ini dapat menyerang armada kapal induk dalam jarak jauh diluar garis teritorial Cina. Rusia telah mengembangkan sistem rudal balistik anti kapal tetapi dihentikan karena kesulitan teknis.

Cina tengah membangun kekuatan angkatan lautnya, kapal induk konvensional sedang dibangun berikut pengembangan jet tempur berpangkalan di kapal induk.

Asahi Shimbun/Berita HanKam
Continue Reading | comments

Jet Siluman Cina J-14

Selasa, 28 Desember 2010



Continue Reading | comments

Cina Akui Bangun Kapal Induk Konvensional

Senin, 20 Desember 2010


20 Desember 2010 -- Cina secara resmi mengakui pertama kalinya memulai program pembangunan kapal induk. Sebuah laporan dipublikasikan Badan Kelautan Cina melaporkan para pemimpin Cina memutuskan tahun lalu membangun kapal induk Cina pertama, dikutip harian Jepang Asahi Shimbun, Jumat (17/12).

Sumber militer Cina mengatakan rencana awal meluncurkan kapal induk tenaga konvensional berbobot 50,000-60,000 ton pada 2015. Tetapi, pengerjaan konstruksi kapal sangat cepat, peluncuran kapal induk pertama dimajukan menjadi 2014.

Konstruksi kapal dilakukan enam perusahaan militer dan institute riset di Shanghai serta sejumlah kota lainnya.


Pembangunan kapal induk tenaga nuklir direncanakan diluncurkan sekitar tahun 2020.

Sementara itu, Varyag kapal induk kelas Kuznetsov bekas Uni Sovyet dibeli dari Ukraina sedang diperbaiki di pelabuhan Dalian dan diharapkan dioperasikan sebagai kapal latih mulai 2012.

Militer Cina sedang mengembangkan jet tempur untuk ditempatkan di kapal induk dan sekitar 50 pilot telah berlatih mengoperasikan pesawat diatas kapal induk.

Fasilitas latihan pilot lepas landas dan mendarat di kapal induk dibangun di Xingcheng, provinsi Lianoning serta Xian, Provinsi Shaanxi. Sebuah model skala penuh kapal induk dibangun di Wuhan, Provinsi Hubei guna menguji sistem radar.

Sumber militer mengatakan pemimpin Cina memutuskan April 2009 pada rapat politbiro Partai Komunis menyetujui program pembangunan kapal induk.

Seluruh kapal induk diperkirakan ditempatkan di Sanya, sebuah pelabuhan di Laut Cina Selatan.

Asahi Shimbun/Berita HanKam
Continue Reading | comments

Rosoboronexport Jual Mesin Jet dan Jet Tempur ke China

Kamis, 18 November 2010

Prajurit AU Pakistan menutupi jet tempur JF-17 yang dipamerkan di Zhuhai Airshow 2010 di Provinsi Guangdong, Senin (15/11). JF-17 hasil kerjasama Cina dan Pakistan, mesin yang digunakan RD-93 buatan Rusia. (Foto: AP)

19 November 2011 -- Rosoboronexport akan meneken kontrak pengiriman tambahan mesin jet RD-93 ke Cina, ungkap seorang pejabat senior Rosoboronexport, Rabu (16/11).

Beijing dan Moskow sepakat penjualan 100 mesin jet RD-93 senilai 238 juta dolar pada 2005 dengan opsi 400 mesin untuk dipasang pada jet tempur hasil kerjasama Cina dan Pakistan FC-1 Fierce Dragon.

“Kami sedang melakukan pembicaraan baru dengan China National Aero-Technology Import & Export Corporation [CATIC] terkait opsi untuk penambahan 100 mesin RD-93,” menurut wakil direktur Rosoboronexport Alexander Mikheyev di pameran dirgantara di Zhuhai, China.

“Kami berharap kontrak ini akan diteken,” tambah Mikheyev.

Mesin RD-93 merupakan varian RD-33 yang dikembangkan untuk jet tempur MiG-29. RD-93 dikembangkan oleh biro disain Rusia Klimov khusus untuk FC-1 atau JF-17 Thunder.

Perusahaan pertahanan Rusia keberatan penjualan mesin RD-93 ke China, karena akan menjadi pesaing dalam pemasaran jet tempur ke negara-negara berkembang.

China akan beli Su-35

Sukhoi Su-35. (Foto: Sukhoi)

Roboronexport mengumumkan bersiap melakukan pembicaraan dengan China terkait pembelian jet tempur canggih Su-35.

Jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker-E pertama kali ditampilkan di pameran udara MAKS 2007 di luar kota Moskow.

Su-35 merupakan modifikasi dari Su-27 Flanker, termasuk penembur kelas berat, jarak jauh, serba guna. Pesawat ditenagai dua mesin 117S dengan thrust vectoring, dirancang dapat mengotong persenjataan seberat 8 ton sejauh 3550 km dengan mengandalkan bahan bakar didalam tanki internal.

Sejumlah negara tertarik mengakuisisi Su-35 untuk angkatan udaranya.

RIA Novosti/Berita HanKam
Continue Reading | comments

Jet Tim Akrobatik Cina Berubah Kamuflase

Senin, 08 November 2010

9 November 2010 -- Cina mengubah kamuflase 7 jet tempur J-10 yang digunakan tim akrobatik Bayi, yang akan memulai debutnya di China International Aviation & Aerospace Exhibition ke-8 di Zhuhai, Provinsi Guandong, mulai 16 November 2010. (Foto: AP)

J-10 dengan kamuflase baru terlihat di bandara Sanzo, Zhuhai di Provinsi Guandong, Senin (8/11). (Foto: xinhua)

Berita HanKam
Continue Reading | comments

Cina Bangun Lagi LPD Tipe 071?

Selasa, 11 Mei 2010

Foto diambil 10 Mei 2010 di galangan kapal milik CSSC, dari bentuk konstruksi diduga Cina sedang membangun LPD.

12 Mei 2010 -- Cina berencana membangun enam kapal perang jenis LPD (Landing Platform Docks) Tipe 071 Yuzhao. Kapal pertama bernomor lambung 998 telah dioperasikan Armada Laut Selatan, dilengkapi empat helikopter angkut berat Z-8K.

Perusahaan negara China State Shipbuilding & Trading Corp (CSTC) melalui sebuah anak perusahaannya China State Shipbuilding Corp (CSSC) meluncurkan kapal LPD pertama di Hudong Zhonghua Shipbuilding, Shanghai 21 Desember 2006.

LPD Tipe 71 Yuzhao ditawarkan kepada pemerintah Malaysia guna menggantikan kapal angkut AL Malaysia yang sudah uzur dan rusak karena terbakar.



@info-hankam
Continue Reading | comments

Cina Bangun Lagi LPD Tipe 071?

Foto diambil 10 Mei 2010 di galangan kapal milik CSSC, dari bentuk konstruksi diduga Cina sedang membangun LPD.

12 Mei 2010 -- Cina berencana membangun enam kapal perang jenis LPD (Landing Platform Docks) Tipe 071 Yuzhao. Kapal pertama bernomor lambung 998 telah dioperasikan Armada Laut Selatan, dilengkapi empat helikopter angkut berat Z-8K.

Perusahaan negara China State Shipbuilding & Trading Corp (CSTC) melalui sebuah anak perusahaannya China State Shipbuilding Corp (CSSC) meluncurkan kapal LPD pertama di Hudong Zhonghua Shipbuilding, Shanghai 21 Desember 2006.

LPD Tipe 71 Yuzhao ditawarkan kepada pemerintah Malaysia guna menggantikan kapal angkut AL Malaysia yang sudah uzur dan rusak karena terbakar.



@beritahankam
Continue Reading | comments

Daftar Blog Saya

Popular Posts Today

Recent Post

Recent Posts
 
Copyright © 2011. Info HanKam - All Rights Reserved
Ping your blog, website, or RSS feed for Free Proudly powered by Blogger